Kisah Sahabat Nabi

Kendati Banyak yang Memilih, Khalifah Umar Larang Anaknya Jadi Pejabat

loading...
Kendati Banyak yang Memilih, Khalifah Umar Larang Anaknya Jadi Pejabat
Abdullah bin Umar. Foto/Ilustrasi/Ist
BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu lebih kurang pepatah masa lampau yang tentu saja masih aktual sampai masa sekarang. Sosok anak laki-laki acap kali tak berbeda jauh dibandingkan ayahnya. Paling tidak pepatah ini cocok disematkan untuk tokoh Abdullah bin Umar dengan sang ayah Umar bin Khattab . (Baca juga: Orang Pertama Bergelar Amirul Mukminin Ini Kena Marah Rasulullah )

Keduanya sama-sama zuhud . Keduanya tak mabuk jabatan. Menjelang wafat, Umar bin Khattab menyampaikan wasiat kepada kaum Muslimin soal pemilihan khalifah penggantinya. Beliau melarang anak-anaknya menjadi khalifah. Bahkan tidak boleh menjadi pejabat apa pun.

Baca juga: Kasus Khalid bin Walid, Cara Pandang Umar dan Abu Bakar

Anak-anak Khalifah Umar bin Khattab antara lain Abdullah bin Umar, Ubaydullah bin Umar, Zaid bin Umar, Hafsah binti Umar, dan beberapa lagi.

Kala itu, beberapa tokoh Muslimin yang hadir mendengar pesan Umar itu justru menyarankan agar Abdullah bin Umar sebagai penggantinya. "Jadikan saja Abdullah menjadi khalifah, kami akan menerimanya," kata sebagian Muslimin pada saat itu.

"Tidak,” kata Umar yang saat itu sedang menjelang ajalnya karena luka yang diderita. “Tidak ada kaum keturunan Al Khattab hendak mengambil pangkat khalifah ini untuk mereka. Abdullah tidak akan turut memperebutkan pangkat ini," tegasnya.

Baca juga: Dia Abdul Ka'bah yang Mengurus Masalah Penebusan Darah

Setelah itu, Umar bin Khattab menoleh ke arah putranya. "Anakku Abdullah, sekali-kali jangan. Sekali-kali jangan engkau mengingat-ingat hendak mengambil jabatan ini!"

"Baiklah ayah," jawab Abdullah bin Umar.

Abdullah mematuhi wasiat sang ayah. Pada masa perebutan pimpinan antara Ali bin Abu Thalib dan Muawiyah, Abdullah tercatat sebagai sosok yang netral. Padahal, tak sedikit tawaran beberapa kelompok politik untuk menjadikannya khalifah.

Baca juga
: Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat

Menurut Hasan RA, tatkala Utsman bin Affan terbunuh, sekelompok umat Islam memaksanya menjadi khalifah. Mereka berteriak di depan rumah Ibnu Umar, "Anda adalah seorang pemimpin, keluarlah agar kami minta orang-orang berbaiat kepada anda!"

"Demi Allah, seandainya bisa, janganlah ada darah walau setetes pun tertumpah disebabkan aku," jawabnya.

Massa di luar mengancam: "Anda harus keluar, atau kalau tidak, kami bunuh di tempat tidurmu!"

Baca juga: Murtad dan Penolakan Membayar Zakat Pascawafatnya Rasulullah

Ibnu Umar tetap menolak, kendati diancam. Massa pun bubar. Sampai suatu ketika, datang lagi ke sekian kali tawaran menjadi khalifah. Ibnu Umar mengajukan syarat, yakni asal ia dipilih oleh seluruh kaum Muslimin tanpa paksaan.

Jika baiat dipaksakan sebagian orang atas sebagian yang lainnya di bawah ancaman pedang, ia akan menolak. Saat itu, sudah pasti syarat ini takkan terpenuhi. Mereka sudah terpecah menjadi beberapa kelompok, bahkan saling mengangkat senjata. Ada yang kesal lantas menghardik Ibnu Umar.

Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam

"Tak seorang pun lebih buruk perlakuannya terhadap manusia kecuali kamu," kata mereka.

"Demi Allah, aku tidak pernah menumpahkan darah mereka tidak pula berpisah dengan jamaah mereka, apalagi memecah persatuan mereka?" jawab Ibnu Umar heran.

"Seandainya kau mau menjadi khalifah, tak seorang pun akan menentang," ucap mereka menyakinkan.

Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman )
halaman ke-1
preload video