Jika Syair yang Dihafal Dibacakan Maka Butuh Waktu Sebulan
Rabu, 19 Agustus 2020 - 13:33 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
BELIAU adalah seorang Tabiin. Namanya, Amir bin Syurahabil Al-Humairi, namun dikenal dengan panggilan singkat: Asy-Sya’bi. Soal hafalan, dia tanpa tanding. Setidaknya pada zamannya. (Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni )
“Yang paling sedikit dari yang aku pelajari adalah kata-kata sya’ir. Namun seandainya aku mau membacakan sya’ir-sya’ir yang aku ketahui, tentu akan memakan waktu sebulan penuh tanpa mengulang-ulang yang sudah aku sebutkan,” tuturnya suatu ketika seperti dikutip oleh Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam Mereka adalah Para Tabi’in .
Asy-Sya’bi mendapat jatah mengisi suatu halaqah ilmu di masjid jami’ Kufah. Di sana para pengikutnya berkumpul dalam kelompok-kelompok. Kedudukan ini amat mulia. Padahal waktu itu masih banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup dan mondar-mandir di tengah-tengah ummat Islam. (Baca juga: Guru Yahudi Ini Anggap di Surga Itu Aneh, Makan Tapi Tidak Buang Air Besar )
Suatu kali Abdullah bin Umar bin Khattab mendengarkan asy-Sya’bi bercerita dengan rinci tentang sejarah peperangan. Demikian mengagumkan hingga Ibnu Umar berkata, “Aku hadir dan mendengarkannya dengan telingaku sendiri apa yang dikisahkan oleh asy-Sya’bi, sungguh dia lebih baik periwayatannya dariku.”
Lembut Hati
Asy-Sya’bi lahir enam tahun setelah masa Khalifah Al-Farruq . Saat bayi, tubuhnya begitu kurus dan mungil. Karena saudara kembarnya lebih banyak mendapatkan jatah di rahim ibunya sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan tubuhnya.
Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging
Beliau lahir dan dibesarkan di Kufah. Akan tetapi kota Madinah Al-Munawarah merupakan kota yang menjadi idamannya. Beliau sering mondar mandir ke sana untuk menuntut ilmu dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana para sahabat juga sering berpergian ke Kufah yang menjadi pangkalan untuk jihad fii sabilillah maupun tempat untuk bermukim.
Menurut Abdurrahman Ra’at Basya, beliau mendapat kesempatan untuk bertemu sebanyak kurang lebih 500 sahabat yang mulia. Beliau meriwayatkan dari sahabat-sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib , Sa’ad bin Abi Waqash , Zaid bin Tsabit , Ubadah bin Shamit, Abu Musa Al-Asy’ari , Abu Sa’id Al-Khudri, Nu’man bin Basyir, Abdullah bin Basyir, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Adi bin Hatim, Abu Hurairah , Ummul Mukminin Aisyah dan lain-lain.
Baca juga: Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz Digali dan Dihancurkan
Asy-Sya’bi dikenal sebagai pemuda yang cerdas, lembut hatinya, tajam analisanya, bagus pemahamannya dan kuat daya hafal serta ingatannya. Diriwayatkan bahwa dia berkata, “Tiada aku menulis di lembaran putih atau aku dengar hadis dari seseorang melainkan aku mampu menghafalnya, dan tiada pernah aku mendengar perkataan dari orang melainkan aku tak ingin mengulangi ucapannya.”
“Yang paling sedikit dari yang aku pelajari adalah kata-kata sya’ir. Namun seandainya aku mau membacakan sya’ir-sya’ir yang aku ketahui, tentu akan memakan waktu sebulan penuh tanpa mengulang-ulang yang sudah aku sebutkan,” tuturnya suatu ketika seperti dikutip oleh Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam Mereka adalah Para Tabi’in .
Asy-Sya’bi mendapat jatah mengisi suatu halaqah ilmu di masjid jami’ Kufah. Di sana para pengikutnya berkumpul dalam kelompok-kelompok. Kedudukan ini amat mulia. Padahal waktu itu masih banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup dan mondar-mandir di tengah-tengah ummat Islam. (Baca juga: Guru Yahudi Ini Anggap di Surga Itu Aneh, Makan Tapi Tidak Buang Air Besar )
Suatu kali Abdullah bin Umar bin Khattab mendengarkan asy-Sya’bi bercerita dengan rinci tentang sejarah peperangan. Demikian mengagumkan hingga Ibnu Umar berkata, “Aku hadir dan mendengarkannya dengan telingaku sendiri apa yang dikisahkan oleh asy-Sya’bi, sungguh dia lebih baik periwayatannya dariku.”
Lembut Hati
Asy-Sya’bi lahir enam tahun setelah masa Khalifah Al-Farruq . Saat bayi, tubuhnya begitu kurus dan mungil. Karena saudara kembarnya lebih banyak mendapatkan jatah di rahim ibunya sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan tubuhnya.
Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging
Beliau lahir dan dibesarkan di Kufah. Akan tetapi kota Madinah Al-Munawarah merupakan kota yang menjadi idamannya. Beliau sering mondar mandir ke sana untuk menuntut ilmu dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana para sahabat juga sering berpergian ke Kufah yang menjadi pangkalan untuk jihad fii sabilillah maupun tempat untuk bermukim.
Menurut Abdurrahman Ra’at Basya, beliau mendapat kesempatan untuk bertemu sebanyak kurang lebih 500 sahabat yang mulia. Beliau meriwayatkan dari sahabat-sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib , Sa’ad bin Abi Waqash , Zaid bin Tsabit , Ubadah bin Shamit, Abu Musa Al-Asy’ari , Abu Sa’id Al-Khudri, Nu’man bin Basyir, Abdullah bin Basyir, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Adi bin Hatim, Abu Hurairah , Ummul Mukminin Aisyah dan lain-lain.
Baca juga: Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz Digali dan Dihancurkan
Asy-Sya’bi dikenal sebagai pemuda yang cerdas, lembut hatinya, tajam analisanya, bagus pemahamannya dan kuat daya hafal serta ingatannya. Diriwayatkan bahwa dia berkata, “Tiada aku menulis di lembaran putih atau aku dengar hadis dari seseorang melainkan aku mampu menghafalnya, dan tiada pernah aku mendengar perkataan dari orang melainkan aku tak ingin mengulangi ucapannya.”
Lihat Juga :