Pidato Lengkap Haedar Nashir pada Milad Muhammadiyah ke-109
Jum'at, 19 November 2021 - 20:16 WIB
loading...
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir saat pidato dalam Milad ke-109 Muhammadiyah. (Foto/Ilustrasi: PP Muhammadiyah)
A
A
A
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir , menyampaikan pidato dalam perayaan Milad Ke-109 Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta . Perayaan ini digelar secara luring dan daring pada Kamis 18 November 2021. Berikut pidato lengkapnya:
Baca juga: Pesan Muhammadiyah untuk Panglima TNI Andika Perkasa: Teladani Jenderal Soedirman
Milad ke 109 Muhammadiyah tahun ini masih berada dalam kondisi pandemi Covid 19 . Dunia tidak menyangka akan adanya virus yang mematikan. Pada tanggal 18 November 2021 ini telah memapar lebih 254 juta orang dan meninggal dunia 5.125.266 orang di dunia. Di Indonesia terdapat 4.251.423 terpapar positif dan meninggal 143.683 jiwa, yang membawa dampak buruk di bidang kesehatan, sosial, ekonomi dan kejiwaan yang luar biasa berat. Kehidupan selama dua tahun berjalan tidak normal dengan usaha penanggulangan yang tidak mudah.
Alhamdulillah kondisi Covid 19 di negeri ini mulai melandai di banding negara negara lain. Indonesia termasuk negara yang berhasil menekan kasus Covid hingga 7% di bawah rata-rata dunia yang masih sebesar 23,84%. Keberhasilan tersebut buah dari kesungguhan pemerintah dan peran kekuatan-kekuatan masyarakat antara lain Muhammadiyah yang sejak awal konsisten bergerak gigih menangani pandemi.
Namun semua pihak harus tetap waspada dan seksama. Pandemi ini belum dapat dipastikan kapan berakhir, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) mewacanakan fase endemi yang tentu memerlukan prasayarat yang tidak gampang. Usaha pemulihan dalam berbagai aspek menjadi agenda penting di semua negara. Bagi Indonesia menangani dampak pandemi tentu menjadi agenda yang tidak ringan karena bertemali dengan berbagai persoalan lainnya yang harus bersamaan ditangani dengan tekad dan kesungguhan atau political will yang kuat dari semua pihak.
Sikap Optimistis
Bangsa Indonesia harus bangkit dari pandemi dan sigap menyelesaikan masalah masalah negeri. Indonesia memiliki potensi dan peluang yang positif untuk bangkit dari pandemi dan menyelesaikan persoalan negeri. Kecintaan, kebersamaan, dan pengkhidmatan berbagai komponen bangsa masih bertumbuh dengan baik, sebagaimana ditunjukkan Muhammadiyah dan umat Islam maupun golongan keagamaan dan kebangsaan yang lain. Banyak potensi anak negeri yang hebat dan berprestasi di dalam negeri maupun mancanegara. Kekayaan alam dan budaya Indonesia sangatlah kaya sebagai anugerah Tuhan.
Indonesia tahun ini bahkan memperoleh kepercayaan dunia di mana Presiden Joko Widodo dimandati memimpin Presidensi G20 tahun 2021-2022. Muhammadiyah menyampaikan apresiasi dan selamat atas pencapaian yang positif dan konstruktif di ranah global tersebut. Harapannya kepercayaan dari G20 (Group of Twenty) tersebut dijadikan modal penting membangun optimisme dan peluang positif agar Indonesia makin berkiprah proaktif di tingkat global sekaligus melakukan konsolidasi nasional untuk bangkit dan bergerak dinamis menjadi negara berkemajuan.
Sikap optimistis disertai ikhtiar bangkit niscaya dilakukan oleh pemerintah dan seluruh rakyat. Pandemi dan masalah negeri dapat diselesaikan secara simultan jika semua pihak bersatu dalam bingkai Indonesia milik bersama disertai sikap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kehendak diri, kroni, golongan, dan kepentingan sendiri sendiri. Indonesia akan gagal bangkit dan maju manakala para pihak bercerai berai dan silang sengketa tak berkesudahan dalam sangkar besi keangkuhan kuasa dan ananiyyah hizbiyyah (egoisme kelompok) yang merah menyala.
Konsolidasi nasional menjadi niscaya menyertai gerakan pulih dan bangkit. Bangsa ini masih memiliki persoalan yang harus terus dipecahkan bersama seperti merekat persatuan dari ancaman perpecahan, korupsi, kesenjangan sosial ekonomi, eksploitasi sumberdaya alam, masalah tanah dan tataruang, kekerasan, serta masalah kebangsaan lainnya yang menjadi tanggungjawab kolektif. Karenanya diperlukan kesungguhan, kecerdasan, dan kebersamaan disertai kearifan semua pihak, elite, dan warga bangsa dalam menyelesaikan masalah masalah berat tersebut dengan spirit bangkit dan bergerak bersama. Hindari sikap dan tindakan para pihak yang dapat menambah beban berat dan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca juga: Milad ke-109, Ketua DPRD Kendal: Muhammadiyah Telah Banyak Bantu Pemerintah Tanggulangi Pandemi
Indonesia harus dibawa maju bersama dalam semangat persatuan Indonesia dan kepribadian bangsa. Kemajuan dan keunggulan Indonesia haruslah memiliki fondasi yang kokoh berlandaskan konstitusi, dasar negara Pancasila, serta nilai nilai luhur agama dan kebudayaan yang hidup dan mendarah-daging dalam jati diri bangsa. Indonesia dengan nilai luhur serta potensi dan kekuatan yang dimilikinya harus mampu menjawab tantangan zaman di tengah dinamika perubahan yang kompleks saat ini ke depan.
Khusus dalam menghadapi pandemi Covid-19, sikap optimistik disertai usaha-usaha yang maksimal penting untuk terus dilakukan agar Indonesia dapat mengatasi wabah ini dengan langkah yang semakin terencana.
Segala kebijakan dan ikhtiar kolektif mesti dilakukan secara simultan dan perencanaan ke depan yang matang. Termasuk dalam melakukan recovery dan penanganan dampak yang diakibatkan oleh pandemi selama dua tahun ini.
Segala ikhtiar yang bersifat rasional-ilmiah dan spiritual-rohaniah harus terus dilakukan sebagai jalan jihad untuk mengakhiri pandemi ini. Allah memberikan jalan lapang bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh sebagaimana firman-Nya:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ( QS Al Ankabut : 69 ).
Sikap optimistis disertai ikhtiar yang bersungguh-sungguh harus menjadi jiwa, pikiran, dan orientasi tindakan semua orang di negeri ini agar mampu mengubah keadaan yang buruk dari wabah Corona ke situasi yang baik. Meski pandemi mulai melandai di negeri ini, sikap dan langkah seksama sangatlah diperlukan. Kaum beriman diajarkan Allah, “innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” ( QS Al- Ra'du: 11 ).
Optimisme dalam wujud tekad dan ikhtiar untuk berubah juga menjadi niscaya dalam memecahkan persoalan-persoalan umat dan bangsa. Seberat apa pun masalah yang dihadapi bangsa Indonesia jika pemerintah serta semua komponen bangsa berkomitmen kuat, bersatu, dan melangkah bersama secara serius dan terencana maka akan terdapat jalan keluar dari kesulitan.
Kunci menyelesaikan masalah bangsa ialah tekad dan kesungguhan yang kuat disertai ketulusan kejujuran keterpercayaan, kecerdasan, keseksamaan, serta langkah-langkah terencana dan tersistem yang terfokus pada mencari solusi. Seraya hindari sikap dan langkah yang serampangan, tidak priontas, kontraproduksi, dan kegaduhan yang diakibatkan oleh pola pikir yang salah kaprah dalam membangun dan membawa Indonesia. Sungguh tidak ada kekuatan yang akan mampu menyelesaikan persoalan persoalan bangsa yang berat itu sendirian.
Bagi kaum muslimin Indonesia sebagai mayoritas di negeri ini terdapat tuntutan dan tantangan untuk menjadi kekuatan pencerdas, pencerah, pendamai, dan pembawa kemajuan yang bersendikan Ajaran Islam yang rahmatan lil-'alamim. Kaum muslim harus tampil menjadi golongan mayoritas yang berkualitas “ummatan wasatan li-takunu syuhada'a 'ala al-Nas , yaitu umat tengahan yang menampilkan kualitas dan berperan konstruktif dalam berbagai aspek kehidupan. Islam dan keberadaan kaum muslim Indonesia tidak cukup berdalih sebagai penyebar misi rahmmatan lil-alamin tanpa dibuktikan secara konkret dengan menampilkan diri sebagai uswah hasanah (teladan terbaik) dan khaira ummah (umat terbaik) yang unggul berkemajuan di dunia nyata.
Baca juga: Milad ke-109, Sekjen Partai Perindo: Pengabdian & Kontribusi Muhammadiyah Bagi RI Tak Kenal Lelah
Nilai Utama
Pandemi Covid 19 memberi pelajaran berharga ('ibrah, i'tibar) tentang pentingnya manusia menjaga atau memelihara kehidupan. Kehidupan yang menyangkut jiwa raga (hifz al-nafs), akal (hifz al 'aql) harta (hifz al-mal), dan keturunan (hifz al-nasl) dengan segala relasinya harus dijaga penuh pertanggungjawaban dalam satu kesatuan di bawah pondasi hidup beragama (hifz al -din) sebagaimana menjadi tujuan syariat Islam (maqasidu al-syariah). Tujuan khusus syariat tersebut menurut Imam al-Ghazali terhubung dengan tercapainya kemaslahatan umum (al-maslahat al-ama). Allah dengan tegas berfirman:
fa! masiahat al 'amSt). Allah dengan tegas berfirman:
Artinya: “... barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi maka seakan akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia” ( QS Al-Maidah:32 ).
Kehidupan manusia merupakan sesuatu yang luhur, berharga, dan bermakna. Memahami kehidupan dengan segala aspek dan siklusnya niscaya didekati secara bayani, burhani, dan irfani secara interkoneksi yang mendalam, luas, dan seksama. Letakkanlah persoalan pandemi ini dalam dimensi iman, tauhid, dan hablun min Allah yang terhubung langsung dengan hablun min alnas, ilmu, ihsan, dan amal saleh yang hakiki dan melintasi. Hidup, sakit, dan mati bukanlah persoalan praktis laksana barang murah yang mudah dibuang atau sekali pakai (disposable) sebagaimana cara pandang verbal dan instrumental.
Manusia bukanlah benda mati meski berjasad raga. Kendati revolusi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-21 telah memasuki fase baru yang melahirkan “Kecerdasan Buatan" (Artificial Intellegence) dan “Rekayasa Genetik" (Genetic Engineering). Sebagaimana pandangan liberal sekutar Yuval Noah Harari yang angkuh bahwa umur manusia dapat diperpanjang sampai 500 tahun serta menganggap kematian sebagai persoalan teknis dan bukan metafisik. Namun manusia bukanlah benda material. Islam memandang manusia sebagai makhluk terbaik (fi ahsan al taqwim) yang terdiri dari jiwa dan raga, di dalam dirinya terdapat hati dan akal yang dianugerahkan Tuhan. Manusia bahkan memiliki fitrah beragama (QS Al-Rum: 30: Al-'Araf. 172). Kecerdasan buatan dan rekayasa genetik sendiri merupakan hasil kerja otak manusia yang diberikan Tuhan, bukan barang jadi yang dipungut di jalanan.
Pandemi ini masalah bersama yang niscaya menjadi ibrah dan hikmah yang menumbuhkan pandangan dan sikap luhur berbasis nilai-nilai utama (al-qiyam al-fadilah).
Nilai (Inggris: value, Arab: qimah qiyam) yakni sesuatu yang berharga dan dijunjung tinggi dalam kehidupan manusia. Di antara nilai-nilai utama yang niscaya dikembangkan ialah nilai tauhid prokemanusiaan (al-qiyam al-tauhid li al-insani), nilai pemuliaan manusia (al-qiyam al-takrim al-insani), nilai persaudaraan dan kebersamaan (al-qiyam al-ukhuwwah wa al jama'iyyah), nilai kasih sayang (al-qiyam al tarahum), nilai tengahan (al qiyam al wasatiyyah), nilai kesungguhan berikhtiar (al qiyam al mujahadah), nilai keilmuan (al-qiyam al-ilmiyyah) serta nilai kemajuan (al-qiyam al-hadariyyah). Nilai-nilai utama tersebut dapat dijadikan dasar orientasi dalam menyikapi pandemi, sekaligus mengembangkan sikap luhur pasca pandemi karena sangat bermakna bagi kehidupan bersama umat manusia.
Pertama, nilai ketauhidan untuk kemanusiaan. Tauhid merupakan asas paling mendasar dalam Islam. Tauhid dalam Islam tidak terbatas menyangkut aspek iman untuk mengesakan Tuhan semata bersamaan dengan itu tauhid maupun iman dan takwa terkait dengan urusan kemanusiaan dan kehidupan. Ajaran tentang iman dan takwa dalam Al-Qur'an banyak disandingkan dengan perintah amal saleh dan kebaikan. Allah menegaskan dalam Surah al-Ma'un, orang disebut mendustakan agama karena tidak peduli pada kaum miskin dan anak yatim. Allah memperingatkan, kerusakan di muka bumi akan terjadi bila tidak ada relasi antara “hablun min Allah” dan “hablun min al-nas" (QS Ali Imran: 112). Nabi bersabda, 'La yu'minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu li nafsihi", bahwa tidak beriman seseorang hingga dia terbukti mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya (HR Muslim).
Baca juga: Pesan Muhammadiyah untuk Panglima TNI Andika Perkasa: Teladani Jenderal Soedirman
Milad ke 109 Muhammadiyah tahun ini masih berada dalam kondisi pandemi Covid 19 . Dunia tidak menyangka akan adanya virus yang mematikan. Pada tanggal 18 November 2021 ini telah memapar lebih 254 juta orang dan meninggal dunia 5.125.266 orang di dunia. Di Indonesia terdapat 4.251.423 terpapar positif dan meninggal 143.683 jiwa, yang membawa dampak buruk di bidang kesehatan, sosial, ekonomi dan kejiwaan yang luar biasa berat. Kehidupan selama dua tahun berjalan tidak normal dengan usaha penanggulangan yang tidak mudah.
Alhamdulillah kondisi Covid 19 di negeri ini mulai melandai di banding negara negara lain. Indonesia termasuk negara yang berhasil menekan kasus Covid hingga 7% di bawah rata-rata dunia yang masih sebesar 23,84%. Keberhasilan tersebut buah dari kesungguhan pemerintah dan peran kekuatan-kekuatan masyarakat antara lain Muhammadiyah yang sejak awal konsisten bergerak gigih menangani pandemi.
Namun semua pihak harus tetap waspada dan seksama. Pandemi ini belum dapat dipastikan kapan berakhir, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) mewacanakan fase endemi yang tentu memerlukan prasayarat yang tidak gampang. Usaha pemulihan dalam berbagai aspek menjadi agenda penting di semua negara. Bagi Indonesia menangani dampak pandemi tentu menjadi agenda yang tidak ringan karena bertemali dengan berbagai persoalan lainnya yang harus bersamaan ditangani dengan tekad dan kesungguhan atau political will yang kuat dari semua pihak.
Sikap Optimistis
Bangsa Indonesia harus bangkit dari pandemi dan sigap menyelesaikan masalah masalah negeri. Indonesia memiliki potensi dan peluang yang positif untuk bangkit dari pandemi dan menyelesaikan persoalan negeri. Kecintaan, kebersamaan, dan pengkhidmatan berbagai komponen bangsa masih bertumbuh dengan baik, sebagaimana ditunjukkan Muhammadiyah dan umat Islam maupun golongan keagamaan dan kebangsaan yang lain. Banyak potensi anak negeri yang hebat dan berprestasi di dalam negeri maupun mancanegara. Kekayaan alam dan budaya Indonesia sangatlah kaya sebagai anugerah Tuhan.
Indonesia tahun ini bahkan memperoleh kepercayaan dunia di mana Presiden Joko Widodo dimandati memimpin Presidensi G20 tahun 2021-2022. Muhammadiyah menyampaikan apresiasi dan selamat atas pencapaian yang positif dan konstruktif di ranah global tersebut. Harapannya kepercayaan dari G20 (Group of Twenty) tersebut dijadikan modal penting membangun optimisme dan peluang positif agar Indonesia makin berkiprah proaktif di tingkat global sekaligus melakukan konsolidasi nasional untuk bangkit dan bergerak dinamis menjadi negara berkemajuan.
Sikap optimistis disertai ikhtiar bangkit niscaya dilakukan oleh pemerintah dan seluruh rakyat. Pandemi dan masalah negeri dapat diselesaikan secara simultan jika semua pihak bersatu dalam bingkai Indonesia milik bersama disertai sikap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kehendak diri, kroni, golongan, dan kepentingan sendiri sendiri. Indonesia akan gagal bangkit dan maju manakala para pihak bercerai berai dan silang sengketa tak berkesudahan dalam sangkar besi keangkuhan kuasa dan ananiyyah hizbiyyah (egoisme kelompok) yang merah menyala.
Konsolidasi nasional menjadi niscaya menyertai gerakan pulih dan bangkit. Bangsa ini masih memiliki persoalan yang harus terus dipecahkan bersama seperti merekat persatuan dari ancaman perpecahan, korupsi, kesenjangan sosial ekonomi, eksploitasi sumberdaya alam, masalah tanah dan tataruang, kekerasan, serta masalah kebangsaan lainnya yang menjadi tanggungjawab kolektif. Karenanya diperlukan kesungguhan, kecerdasan, dan kebersamaan disertai kearifan semua pihak, elite, dan warga bangsa dalam menyelesaikan masalah masalah berat tersebut dengan spirit bangkit dan bergerak bersama. Hindari sikap dan tindakan para pihak yang dapat menambah beban berat dan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca juga: Milad ke-109, Ketua DPRD Kendal: Muhammadiyah Telah Banyak Bantu Pemerintah Tanggulangi Pandemi
Indonesia harus dibawa maju bersama dalam semangat persatuan Indonesia dan kepribadian bangsa. Kemajuan dan keunggulan Indonesia haruslah memiliki fondasi yang kokoh berlandaskan konstitusi, dasar negara Pancasila, serta nilai nilai luhur agama dan kebudayaan yang hidup dan mendarah-daging dalam jati diri bangsa. Indonesia dengan nilai luhur serta potensi dan kekuatan yang dimilikinya harus mampu menjawab tantangan zaman di tengah dinamika perubahan yang kompleks saat ini ke depan.
Khusus dalam menghadapi pandemi Covid-19, sikap optimistik disertai usaha-usaha yang maksimal penting untuk terus dilakukan agar Indonesia dapat mengatasi wabah ini dengan langkah yang semakin terencana.
Segala kebijakan dan ikhtiar kolektif mesti dilakukan secara simultan dan perencanaan ke depan yang matang. Termasuk dalam melakukan recovery dan penanganan dampak yang diakibatkan oleh pandemi selama dua tahun ini.
Segala ikhtiar yang bersifat rasional-ilmiah dan spiritual-rohaniah harus terus dilakukan sebagai jalan jihad untuk mengakhiri pandemi ini. Allah memberikan jalan lapang bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh sebagaimana firman-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ( QS Al Ankabut : 69 ).
Sikap optimistis disertai ikhtiar yang bersungguh-sungguh harus menjadi jiwa, pikiran, dan orientasi tindakan semua orang di negeri ini agar mampu mengubah keadaan yang buruk dari wabah Corona ke situasi yang baik. Meski pandemi mulai melandai di negeri ini, sikap dan langkah seksama sangatlah diperlukan. Kaum beriman diajarkan Allah, “innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” ( QS Al- Ra'du: 11 ).
Optimisme dalam wujud tekad dan ikhtiar untuk berubah juga menjadi niscaya dalam memecahkan persoalan-persoalan umat dan bangsa. Seberat apa pun masalah yang dihadapi bangsa Indonesia jika pemerintah serta semua komponen bangsa berkomitmen kuat, bersatu, dan melangkah bersama secara serius dan terencana maka akan terdapat jalan keluar dari kesulitan.
Kunci menyelesaikan masalah bangsa ialah tekad dan kesungguhan yang kuat disertai ketulusan kejujuran keterpercayaan, kecerdasan, keseksamaan, serta langkah-langkah terencana dan tersistem yang terfokus pada mencari solusi. Seraya hindari sikap dan langkah yang serampangan, tidak priontas, kontraproduksi, dan kegaduhan yang diakibatkan oleh pola pikir yang salah kaprah dalam membangun dan membawa Indonesia. Sungguh tidak ada kekuatan yang akan mampu menyelesaikan persoalan persoalan bangsa yang berat itu sendirian.
Bagi kaum muslimin Indonesia sebagai mayoritas di negeri ini terdapat tuntutan dan tantangan untuk menjadi kekuatan pencerdas, pencerah, pendamai, dan pembawa kemajuan yang bersendikan Ajaran Islam yang rahmatan lil-'alamim. Kaum muslim harus tampil menjadi golongan mayoritas yang berkualitas “ummatan wasatan li-takunu syuhada'a 'ala al-Nas , yaitu umat tengahan yang menampilkan kualitas dan berperan konstruktif dalam berbagai aspek kehidupan. Islam dan keberadaan kaum muslim Indonesia tidak cukup berdalih sebagai penyebar misi rahmmatan lil-alamin tanpa dibuktikan secara konkret dengan menampilkan diri sebagai uswah hasanah (teladan terbaik) dan khaira ummah (umat terbaik) yang unggul berkemajuan di dunia nyata.
Baca juga: Milad ke-109, Sekjen Partai Perindo: Pengabdian & Kontribusi Muhammadiyah Bagi RI Tak Kenal Lelah
Nilai Utama
Pandemi Covid 19 memberi pelajaran berharga ('ibrah, i'tibar) tentang pentingnya manusia menjaga atau memelihara kehidupan. Kehidupan yang menyangkut jiwa raga (hifz al-nafs), akal (hifz al 'aql) harta (hifz al-mal), dan keturunan (hifz al-nasl) dengan segala relasinya harus dijaga penuh pertanggungjawaban dalam satu kesatuan di bawah pondasi hidup beragama (hifz al -din) sebagaimana menjadi tujuan syariat Islam (maqasidu al-syariah). Tujuan khusus syariat tersebut menurut Imam al-Ghazali terhubung dengan tercapainya kemaslahatan umum (al-maslahat al-ama). Allah dengan tegas berfirman:
fa! masiahat al 'amSt). Allah dengan tegas berfirman:
مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ
Artinya: “... barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi maka seakan akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia” ( QS Al-Maidah:32 ).
Kehidupan manusia merupakan sesuatu yang luhur, berharga, dan bermakna. Memahami kehidupan dengan segala aspek dan siklusnya niscaya didekati secara bayani, burhani, dan irfani secara interkoneksi yang mendalam, luas, dan seksama. Letakkanlah persoalan pandemi ini dalam dimensi iman, tauhid, dan hablun min Allah yang terhubung langsung dengan hablun min alnas, ilmu, ihsan, dan amal saleh yang hakiki dan melintasi. Hidup, sakit, dan mati bukanlah persoalan praktis laksana barang murah yang mudah dibuang atau sekali pakai (disposable) sebagaimana cara pandang verbal dan instrumental.
Manusia bukanlah benda mati meski berjasad raga. Kendati revolusi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-21 telah memasuki fase baru yang melahirkan “Kecerdasan Buatan" (Artificial Intellegence) dan “Rekayasa Genetik" (Genetic Engineering). Sebagaimana pandangan liberal sekutar Yuval Noah Harari yang angkuh bahwa umur manusia dapat diperpanjang sampai 500 tahun serta menganggap kematian sebagai persoalan teknis dan bukan metafisik. Namun manusia bukanlah benda material. Islam memandang manusia sebagai makhluk terbaik (fi ahsan al taqwim) yang terdiri dari jiwa dan raga, di dalam dirinya terdapat hati dan akal yang dianugerahkan Tuhan. Manusia bahkan memiliki fitrah beragama (QS Al-Rum: 30: Al-'Araf. 172). Kecerdasan buatan dan rekayasa genetik sendiri merupakan hasil kerja otak manusia yang diberikan Tuhan, bukan barang jadi yang dipungut di jalanan.
Pandemi ini masalah bersama yang niscaya menjadi ibrah dan hikmah yang menumbuhkan pandangan dan sikap luhur berbasis nilai-nilai utama (al-qiyam al-fadilah).
Nilai (Inggris: value, Arab: qimah qiyam) yakni sesuatu yang berharga dan dijunjung tinggi dalam kehidupan manusia. Di antara nilai-nilai utama yang niscaya dikembangkan ialah nilai tauhid prokemanusiaan (al-qiyam al-tauhid li al-insani), nilai pemuliaan manusia (al-qiyam al-takrim al-insani), nilai persaudaraan dan kebersamaan (al-qiyam al-ukhuwwah wa al jama'iyyah), nilai kasih sayang (al-qiyam al tarahum), nilai tengahan (al qiyam al wasatiyyah), nilai kesungguhan berikhtiar (al qiyam al mujahadah), nilai keilmuan (al-qiyam al-ilmiyyah) serta nilai kemajuan (al-qiyam al-hadariyyah). Nilai-nilai utama tersebut dapat dijadikan dasar orientasi dalam menyikapi pandemi, sekaligus mengembangkan sikap luhur pasca pandemi karena sangat bermakna bagi kehidupan bersama umat manusia.
Pertama, nilai ketauhidan untuk kemanusiaan. Tauhid merupakan asas paling mendasar dalam Islam. Tauhid dalam Islam tidak terbatas menyangkut aspek iman untuk mengesakan Tuhan semata bersamaan dengan itu tauhid maupun iman dan takwa terkait dengan urusan kemanusiaan dan kehidupan. Ajaran tentang iman dan takwa dalam Al-Qur'an banyak disandingkan dengan perintah amal saleh dan kebaikan. Allah menegaskan dalam Surah al-Ma'un, orang disebut mendustakan agama karena tidak peduli pada kaum miskin dan anak yatim. Allah memperingatkan, kerusakan di muka bumi akan terjadi bila tidak ada relasi antara “hablun min Allah” dan “hablun min al-nas" (QS Ali Imran: 112). Nabi bersabda, 'La yu'minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu li nafsihi", bahwa tidak beriman seseorang hingga dia terbukti mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya (HR Muslim).
Lihat Juga :