Kisah Umar Bin Khattab

Allah Menempatkan Kebenaran di Lidah dan di Hati Umar

loading...
Allah Menempatkan Kebenaran di Lidah dan di Hati Umar
Umar terkenal karena sikapnya yang keras dan tegar sehingga tak dapat ditawar-tawar. Foto/Ilustrasi/Ist
UMAR bin Khattab dikenal tegas dan keras. Apa yang ia lakukakan sangat tulus. Ia akan mengatakan apa yang dianggapkan baik. Sikap Umar yang kadang berbeda dengan Rasulullah, didasari perasaan ikhlas memberikan pendapatnya demi kepentingan umum. Tidak untuk kepentingannya sendiri. (Baca juga: Beberapa Kali Umar Berselisih Pendapat dengan Rasulullah ).

Muhammad Husain Haekal dalam "Umar bin Khattab" menilai dalam hal ini Umar merupakan teladan yang baik. "Hal itu bisa dilihat tentang sikap Umar terhadap khamar," tuturnya. "Kita lihat bagaimana cita-citanya sekiranya Allah mengharamkan khamar yang ketika itu belum diharamkan, padahal di zaman jahiliah dia sendiri seorang peminum minuman keras yang sudah melebihi semestinya," jelasnya. (Baca juga: Ayat-Ayat Khamr: Di Zaman Pra-Islam Sudah Ada yang Haramkan Miras )

Harapannya agar minuman itu diharamkan hanya karena cintanya demi segala kebaikan masyarakat disertai disiplinnya yang begitu kuat.

Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah

Zuhud
Di samping itu, ia termasuk seorang zahid yang paling keras menjauhi harta. Kalau Rasulullah memberikan kepadanya harta hasil rampasan perang yang diperoleh Muslimin, ia berkata: "Berikan kepada yang lebih miskin dari saya." Suatu hari ia berkata demikian kepada Rasulullah, maka kata Nabi: "Terimalah dan simpan kemudian sedekahkan. " (Baca juga: Ijtihad Umar bin Khattab dari Soal Khamar Sampai Urusan Jilbab )

Bahkan begitu kuat zuhud nya, ketika ia mendapat bagian tanah di Khaibar , dan ia menemui Nabi Sallallahu 'alaihi wa sallam maka katanya: "Saya mendapat bagian tanah di Khaibar, yang sebenarnya belum pernah saya mendapat harta begitu berharga, tetapi apa yang harus saya perbuat dengan itu."

"Kalau Anda mau pokoknya wakaf kan dan sedekah kan dengan itu."

Maka dengan itu oleh Umar disedekahkan kepada fakir miskin, kaum kerabat, membebaskan hamba sahaya, fi sabilillah dan kepada tamu. Boleh juga orang yang mengurusnya ikut menikmati dengan sepantasnya atau memberikan kepada teman yang tidak ikut memilikinya.

Baca Juga: Biografi Umar Bin Khattab, Khalifah Kedua yang Menaklukkan Romawi dan Persia

Dan dia berkata: Yang tak boleh dijual, dihibahkan atau diwariskan pokoknya. Inilah yang pertama kali sedekah dilakukan dalam Islam, dan inilah pokok yang pertama yang menjadi sistem wakaf di kalangan Muslimin di mana pun mereka berada.

Tidak heran jika orang yang sudah demikian rupa keadaannya dan zuhudnya akan sangat dihargai dan dihormati oleh semua umat Islam lepas dari wataknya yang begitu keras dan tegar.

Baca juga: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak

Ia juga sangat dicintai dan dihargai oleh Rasulullah sehingga ia memanggilnya dengan Saudaraku. Pernah Umar meminta izin kepadanya akan melaksanakan umrah. Nabi mengizinkan dengan mengatakan: "Saudaraku, jangan lupakan kami dalam doa Anda."

Setiap Umar ingat akan kata-kata ini ia berkata: "Sejak terbit matahari kata ‘Saudaraku’, inilah yang saya senangi."

Baca juga : Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku

Lidah dan Hati Umar
Keikhlasan dan kebersihan hati dari segala hawa nafsu serta cintanya pada keadilan, itulah yang membuat gelar "al-Faruq" melekat padanya. Hanya saja, menurut Haekal, belum terdapat kata sepakat siapa yang menamakan Umar al-Faruq. Ketika ditanya mengenai hal ini menurut sumber dari Aisyah ketika ditanya ia berkata: "Nabi 'alaihis-salam."

Disebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Allah menempatkan kebenaran di lidah dan di hati Umar. Dialah al-Faruq" ("Pemisah"), yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil."

Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid

Dalam at-Tabaqat Ibn Sa'd mengutip sebuah ungkapan berikut rujukannya sebagai berikut: "Saya mendapat kabar bahwa yang pertama kali mengatakan Umar al-Faruq Ahli Kitab. Kaum Muslimin menggunakan sebutan itu dari kata-kata mereka. Belum ada suatu berita yang kami terima bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan itu."

(Baca juga : Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat )

Mana pun yang benar dari sumber-sumber tersebut, yang tak dapat diragukan lagi Umar adalah seorang Faruq — yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil. Dan inilah yang mengabadikan nama al-Faruq sepanjang sejarah, yang melekat pada Umar sampai sekarang, dan akan tetap demikian selamanya.
halaman ke-1
preload video