Nenek Mau Tunjukkan Makam Nabi Yusuf Asal Masuk Surga

Jum'at, 19 Juni 2020 - 15:54 WIB
loading...
Nenek Mau Tunjukkan Makam Nabi Yusuf Asal Masuk Surga
Allah mewahyukan kepadanya supaya mengabulkan tuntutan nenek itu. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
INILAH kisah seorang perempuan tua dari Bani Israil yang mendapatkan peluang emas. Dia memanfaatkannya bukan untuk mendapatkan harta dan benda dunia, tetapi untuk meraih derajat tinggi di surga yang penuh dengan kenikmatan.



Kisah ini disampaikan Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam (SAW) ketika beliau merasa senang karena mendapat penghormatan dari salah seorang Badui saat beliau singgah di rumah Badui tersebut.

Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak dari Abu Musa bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam singgah kepada seorang Badui. Beliau dimuliakan, maka beliau bersabda kepadanya, "Wahai Badui, katakan keperluanmu."



Dia menjawab, "Ya Rasulullah, seekor unta betina dengan pelananya dan domba betina yang diperah oleh keluargaku." Ini diucapkannya dua kali.

Rasulullah berkata kepadanya, "Mengapa kamu tidak seperti nenek tua Bani Israil?"

Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa nenek tua Bani Israil itu?"



Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya Musa hendak berjalan membawa Bani Israil, tetapi dia tersesat di jalan. Maka para ulama Bani Israil berkata kepadanya, 'Kami katakan kepadamu bahwa Yusuf mengambil janji-janji Allah atas kami, agar kami tidak pergi dari Mesir sehingga kami memindahkan tulang-tulangnya bersama kami."



Musa bertanya, "Siapa di antara kalian yang mengetahui kubur Yusuf?"

Mereka menjawab, "Yang tahu di mana kuburan Yusuf hanyalah seorang wanita tua Bani Israil."

Musa memintanya agar dihadirkan. Musa berkata kepadanya, "Tunjukkan kepadaku di mana kubur Yusuf."

Wanita itu menjawab, "Aku tidak mau hingga aku menemanimu di Surga."

Rasulullah Musa tidak menyukai permintaannya, maka dikatakan kepadanya, "Kabulkan permintaannya."



Musa pun memberikan apa yang diminta. Lalu wanita itu mendatangi sebuah danau dan berkata, "Kuraslah airnya." Ketika air telah surut, wanita itu berkata, "Galilah di sini." Begitu mereka menggali, mereka menemukan tulang-tulang Yusuf. Begitu ia diangkat dari tanah, jalanan langsung terlihat nyata seperti cahaya pada siang hari."

Hadis ini diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak (2/624), no. 4088. Dia berkata, "Hadis ini sanadnya sahih, dan keduanya (Bukhari Muslim) tidak meriwayatkannya."



Syaikh ‘Umar Sulaiman al-Asyqor, Guru Besar Universitas Islam Yordania, dalam Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan Sunnah, menjelaskan semasa hidup, Nabi Yusuf meminta kepada Bani Israil yang ada di sekelilingnya agar agar berjanji kelak jika mereka meninggalkan Mesir ke Tanah Suci membawa tulangnya. Kala itu, Bani Israil berjanji akan melaksanakan perintah itu.



Tatkala Allah mengizinkan Nabi Musa dan kaumnya agar keluar dari Mesir, mereka tersesat. Nabi Musa terheran-heran karenanya. Dia meyakini bahwa pasti ada rahasia dalam urusan ini. Maka Nabi Musa pun bertanya kepada orang-orang yang bersamanya. Ulama Bani Israil mengingatkan akan janji leluhur mereka untuk membawa jasad Nabi Yusuf jika ingin meninggalkan Mesir.

Baca Juga: Kisah Mush'ab bin 'Umair, Sahabat Nabi yang Dicintai
Selanjutnya Nabi Musa bertanya, di mana letak kubur Nabi Yusuf. Tetapi tidak seorang pun mengetahui kuburnya kecuali seorang wanita tua Bani Israil. Hanya saja, perempuan tua ini menolak menunjukkan kecuali jika Nabi Musa mengabulkan permintaannya, dan ketika Nabi Musa menanyakan apa keinginannya, ternyata dia menuntut perkara besar.



Dia ingin bersama Nabi Musa di Surga. Sudah barang tentu Nabi Musa tidak bisa mengabulkan permintaan itu. Beliau melihat permintaannya itu berlebih-lebihan, apa yang dilakukannya tidak sepadan dengan derajat yang diminta. Bisa jadi juga karena Nabi Musa tidak bisa mengabulkan permintaan atas sesuatu yang bukan wewenangnya.



Maka Allah mewahyukan kepadanya supaya mengabulkan tuntutan nenek itu. Dan barangsiapa meminta kepada Allah atas perkara-perkara yang tinggi, niscaya Allah mengabulkan permintaannya, walaupun dia tidak mencapai derajat orang-orang yang berhak meraih derajat tersebut. (

Mustajab
Rasulullah merasa permintaan dan hajat si Badui tersebut remeh, maka beliau menyampaikan hadis tentang wanita tua Bani Israil yang mengutarakan satu permintaan besar kepada Musa manakala kesempatan itu terbuka.



Doa Rasulullah mustajab. Sekiranya dia meminta doa kepadanya untuk kebaikan akhirat, niscaya dia akan meraih banyak kebaikan. Rasulullah memberitakan bahwa sebab persyaratan yang diminta oleh wanita tua ini kepada Musa untuk bisa menemaninya di Surga adalah karena dia mengetahui satu ilmu yang tidak diketahui oleh siapa pun dari Bani Israil.

Baca Juga: :Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat

Seperti inilah ambisi-ambisi tinggi, jiwa yang berhasrat meraih derajat-derajat tinggi. Beberapa sahabat berambisi untuk meraih derajat tinggi seperti ini, dan di antara mereka adalah Ukasyah bin Mihshan.

Dia memohon kepada Rasulullah agar termasuk dalam tujuh puluh ribu golongan manusia terpilih yang masuk Surga (tanpa hisab). Wajah mereka seperti wajah rembulan di malam purnama. Mereka tidak kencing, tidak buang air besar, tidak meludah. ( )

Lalu Rasulullah menyampaikan kepada Ukasyah bahwa dia adalah satu dari mereka. Termasuk juga Abu Bakar yang berambisi dipanggil dari segala pintu Surga. Termasuk pula sahabat yang memohon kepada Rasulullah agar bisa menemaninya di Surga, lalu beliau bersabda kepadanya, "Bantulah aku atas dirimu dengan memperbanyak sujud." ( )

Dia tidak mau memenuhi permintaan Musa sebelum Musa menyanggupi permintaannya, yaitu menyertainya di Surga. Wanita tua ini tidak menuntut emas dan perak dari Rasulnya, dan tidak meminta unta atau sapi atau kambing. Seandainya si Badui itu meminta kepada Rasulullah seperti permintaan wanita ini manakala Rasulullah membuka peluang meminta untuknya, niscaya dia sangatlah beruntung. (Baca juga: Membakar Masjid Kaum Munafik, Matinya Abdullah Bin Ubay )

Orang yang mencari syahadah dengan benar, niscaya Allah menyampaikannya derajat orang-orang yang mati syahid, walaupun dia mati di atas tempat tidurnya. Orang yang meminta derajat ulama atau orang-orang yang dermawan, niscaya Allah menyampaikannya pada derajat mereka, walaupun tidak beramal seperti amal mereka. ( ).
(mhy)
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.3029 seconds (0.1#10.140)