Fiqih Prioritas (1)

Mereka Tertipu Padahal Rajin Salat Dhuha dan Tahajud, Ini Penyebabnya

loading...
Mereka Tertipu Padahal Rajin Salat Dhuha dan Tahajud, Ini Penyebabnya
Ilustrasi/Ist
IMAM al-Ghazali dalam ensiklopedianya, al-Ihya' 'Ulum al-Din memberikan perhatian besar kepadafiqh prioritas dan mengkritik cara hidup masyarakat Muslim yang berlebih-lebihan. Begitu juga dalam bukunya, Dzamm al-Ghurur, yang merupakan bagian kesepuluh dari al Muhlikat. (Baca juga: Benarkah Nabi Muhammad Makhluk Allah yang Pertama?)

Al-Ghazali menyebut berbagai kelompok manusia yang tertipu tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, ahli ibadah dan amalan, orang-orang sufi, orang-orang kaya dan, juga orang-orang awam. (Baca juga: Cetak Kartun Nabi Muhammad, Staf Charlie Hebdo Dilindungi Bodyguard)

Dia menyebutkan ketertipuan orang-orang dari masing-masing kelompok, dan bagaimana mereka tertipu oleh hawa nafsu mereka, atau bagaimana setan-setan mereka memperindah perbuatan buruk mereka, sehingga mereka melihatnya sebagai perbuatan yang baik.Setan telah memberikan sifat dan gambaran yang baru, yang harus mereka ikuti. (Baca juga: Bahaya Kesombongan dan Nasehat Imam Al-Ghazali)

Syaikh Yusuf Al-Qardhawy menyebutkan dua contoh kritikan Al-Ghazali yang dianggapnya mendalam dan arif. Contoh pertama ialah kelompok orang-orang beragama yang tertipu, di antara para ahli ibadah dan amal perbuatan.

Al-Ghazali berkata, "di antara mereka adalah kelompok orang-orang yang meremehkan perkara-perkara fardhu dan menyibukkan diri dengan masalah fadhail dan nawafil. Bahkan mungkin sekali mereka memperdalam perkara-perkara fadhail sehingga mereka berani melakukan permusuhan dan tindakan yang melampaui batas." (Baca juga: Imam Al-Ghazali, Sang Pemintal Dirinya Sendiri)

"Seperti orang yang dikalahkan oleh keraguan dalam berwudhu sehingga dia sangat berlebihan dalam melakukannya, dan tidak puas dengan air yang dianggap suci menurut fatwa syari'ah. Dia menilai hal-hal yang jauh dari najis menjadi dekat. Tetapi apabila dia memakan makanan yang halal dia menilai hal-hal yang dekat kepada haram menjadi jauh. Dan bahkan dia memakan makanan yang betul-betul haram." (Baca juga: Intelektualitas Al-Ghazali Berada di Tingkatan yang Sulit Dilampaui)

Ada lagi kelompok yang sangat tamak untuk melaksanakan perkara-perkara yang hukumnya sunnah, tetapi tidak menghiraukan kepada perkara-perkara yang hukumnya fardhu.



"Anda dapat melihat orang yang termasuk di dalam kelompok ini begitu gembira bila dapat melaksanakan salat Dhuha, salat malam, dan perkara-perkara sunnah lainnya, tetapi dia tidak pernah merasakan nikmatnya perkara fardhu, serta tidak bersemangat untuk segera melaksanakan perkara ini di awal waktunya," tutur Al-Qardawi dalam Fiqh Prioritas. (Baca juga: Imam Al-Ghazali dari Persia, Sang Pembela Islam)

Dia lupa terhadap sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Tuhannya, "Tidak ada sesuatu yang dapat dipergunakan oleh seseorang mendekatkan diri kepada-Ku seperti apa yang Saya fardhukan kepada mereka." (Diriwayatkan oleh Bukhari dari hadis Abu Hurairah r.a. dengan lafal, "Tidak ada sesuatu yang dipergunakan oleh hamba-ku kepada diri-ku")

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menyatakan mengabaikan urutan prioritas pada perkara-perkara yang baik adalah termasuk keburukan. (Baca juga:Imam Al-Ghazali (2): Tarekat sampai Untung dan Rugi)

Bahkan, telah ditetapkan adanya dua macam fardhu dalam kehidupan manusia. Pertama, yang terluput, dan kedua tidak terluput. Atau adanya dua keutamaan. Pertama, ialah kategori fardhu yang sempit waktunya, dan kedua ialah kategori fardhu yang luas waktunya. Apabila dia tidak menjaga urutan prioritas tersebut, maka dia akan tertipu dan sia-sia.



Contoh-contoh yang lainnya sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya; karena sesungguhnya kemaksiatan dan ketaatan merupakan dua hal yang sangat jelas.
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
فِىۡ قُلُوۡبِهِمۡ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا ‌ۚ وَّلَهُمۡ عَذَابٌ اَلِيۡمٌۙۢ بِمَا كَانُوۡا يَكۡذِبُوۡنَ‏
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.

(QS. Al-Baqarah:10)
cover bottom ayah
preload video