alexametrics

Perpisahan Sebentar Lagi, Apa Hasil Puasa Selama Ramadhan?

loading...
Perpisahan Sebentar Lagi, Apa Hasil Puasa Selama Ramadhan?
Di antara ciri-ciri takwa itu dijelaskan dalam surah Ali Imran : 15-17. Ilustrasi/SINDOnews
PUASA Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Ibadah puasa diperintahkan Allah kepada setiap mukmin agar bisa meraih takwa (QS al-Baqarah:183). Harapan setiap muslim tentu saja dapat meraih apa yang disebut takwa itu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah : 183)



Takwa berasal dari akar kata waqa-yaqi-wiqayatan, infinitif (mashdar)-nya adalah wiqayah yang mengandung arti menjaga, memelihara, melindungi, hati-hati, menjauhi sesuatu, dan takut azab (khasyyah dan al-khauf). Istilah takwa dan yang seakar dengannya terulang 258 kali dalam Alquran. (Baca juga: Meraih Derajat Takwa dengan Puasa Lahir Batin)

Ibn Mas'ud (w 32 H) menyebut takwa kepada Allah adalah taat kepada-Nya dan tidak boleh berbuat maksiat, bersyukur kepada-Nya dan tidak boleh berbuat kekufuran, ingat kepada-Nya dan tidak boleh melupakan-Nya.

Prof Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, menyebut bahwa takwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah secara harfiah berarti, "Hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah"

Menurut Quraish, makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya, sedangkan "Dia (Allah) bersama kamu di mana pun kamu berada."

"Karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah," jelasnya.

Baca juga: Memburu Kemaafan di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Sebagaimana kita ketahui, menurut Quraish, siksa Allah ada dua macam.

Pertama, siksa di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Tuhan yang ditetapkan-Nya berlaku di alam raya ini, seperti misalnya: Makan berlebihan dapat menimbulkan penyakit; tidak mengendalikan diri dapat menjerumuskan kepada bencana atau api panas, dan membakar, serta hukum-hukum alam dan masyarakat lainnya.

Kedua, siksa di akhirat, akibat pelanggaran terhadap hukum syariat, seperti tidak shalat, puasa, mencuri, melanggar hak-hak manusia, dan 1ain-lain yang dapat mengakibatkan siksa neraka.

Baca juga: 5 Amalan Utama pada 10 Hari Terakhir Ramadhan

Syaikh Muhammad Abduh menulis, "Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt (yang menyiksa)."

Dengan demikian yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt setiap saat, "bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya," sebagaimana bunyi sebuah hadis.

Quraish menambahkan, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara lain dengan jalan berpuasa. Puasa adalah satu ibadah yang unik. Keunikannya antara lain karena ia merupakan upaya manusia meneladani Allah Swt.

Puasa Meneladani Sifat-Sifat Allah
Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Nabi saw memerintahkan, "Takhallaqu bi akhlaq Allah" (berakhlaklah, teladanilah, sifat-sifat Allah).

Di sisi lain, manusia mempunyai kebutuhan beraneka ragam, dan yang terpenting adalah kebutuhan fa'ali, yaitu makan, minum, dan hubungan seks. Allah Swt. memperkenalkan diri-Nya antara lain sebagai tidak mempunyai anak atau istri:

أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٌ

Artinya: Bagaimana Dia memiliki anak, padahal Dia tidak memiliki istri? (QS Al-An'am : 101)

وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةً وَلَا وَلَدًا

Artinya: Dan sesungguhnya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak pula beranak (QS Al-Jin : 3).

Al-Quran juga memerintahkan Nabi Saw. untuk menyampaikan,

قُلْ أَغَيْرَ ٱللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ

Artinya: Apakah aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan...? (QS Al-An'am : 14).

Dengan berpuasa, manusia berupaya dalam tahap awal dan minimal mencontohi sifat-sifat tersebut. Tidak makan dan tidak minum, bahkan memberi makan orang lain (ketika berbuka puasa), dan tidak pula berhubungan seks, walaupun pasangan ada.

Tentu saja sifat-sifat Allah tidak terbatas pada ketiga hal itu, tetapi mencakup paling tidak sembilan puluh sembilan sifat yang kesemuanya harus diupayakan untuk diteladani sesuai dengan kemampuan dan kedudukan manusia sebagai makhluk ilahi. Misalnya Maha Pengasih dan Penyayang, Mahadamai, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan lain-lain. Upaya peneladanan ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, menurut Quraish, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut --bukan pada sisi lapar dan dahaga-- sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Saw. menyatakan bahwa, "Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga."

Baca juga: Mengubah Takut dan Bimbang Dengan Tawakkal Kepada Allah

Ciri-Ciri Takwa
Seperti yang sudah disebut tadi, ibadah puasa diperintahkan Allah kepada setiap mukmin agar bisa meraih takwa (QS al-Baqarah : 183). Di antara ciri-ciri takwa itu dijelaskan dalam surah Ali Imran : 15-17. Selama berpuasa, kita berlatih untuk memiliki ciri-ciri takwa tersebut.

Pertama, senantiasa berdoa kepada Allah SWT, seperti: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka."

Di samping berikhtiar, orang yang bertakwa senantiasa menggantung kan harapannya kepada Allah semata. Mereka menunjukkan identitasnya sebagai mukmin sejati. Dan mereka juga sangat menginginkan balasan surga. Keinginan itu menjadi motivasi untuk tetap beriman dan beramal saleh serta takut berbuat maksiat.

Kedua, memiliki sifat sabar (ashshabirin). Puasa melatih sabar untuk menahan lapar dan dahaga serta segala sesuatu yang membatalkannya. Pribadi yang sabar sangat dibutuhkan agar kita tetap taat, dapat mengendalikan diri untuk tidak bermaksiat, termasuk bertahan dari berbagai problem dan kesulitan hidup.

Ketiga, memiliki sifat jujur (ashshadiqin). Karena keyakinannya pada pengawasan Allah, orang yang berpuasa tidak akan membatalkan puasanya dengan makan dan minum meski ia bisa memastikan tidak seorang pun tahu jika ia berbuka. Kejujuran akan mudah terbentuk jika seseorang yakin sepenuh hati bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya.

Keempat, senantiasa taat kepada Allah (al-qanitin). Untuk melaksanakan ibadah secara kontinu, butuh kesadaran, kesungguhan, latihan, dan pembiasaan. Ramadhan hadir membiasakan kita beribadah, seperti salat berjamaah, zikir, tadarus, dan bersedekah. Kebiasaan itu harus tetap dilakukan di luar Ramadhan.

Kelima, menafkahkan harta di jalan Allah (al-munfiqin). Dalam QS al-Baqarah : 177 juga dijelaskan tentang ciri orang bertakwa yang selalu berbagi pada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta.

Hal ini mengisyaratkan bahwa orang-orang yang bertakwa memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan solidaritas yang kuat pada sesama.

Keenam, senantiasa beristighfar pada waktu sahur (al-mustaghfirin bilashar). Orang yang bertakwa selalu bangun di waktu sahur lalu memanfaatkannya untuk beristighfar. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk tetap istiqamah menjadi orang-orang yang bertakwa. Amin. (Baca juga: Lailatul Qadar: Bagaimana Datangnya, Apa Tiap Orang akan Mendapatkan?)
(mhy)
cover top ayah
وَاَنَّهٗ هُوَ اَضۡحَكَ وَاَبۡكٰىۙ
Sesungguhnya Allah-lah yang menjadikan orang bisa tertawa dan menangis. 

(QS. An-Najm:43)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak