Teladan Sikap Wara Rasulullah dan Para Khulafaur Rasyidin
Jum'at, 05 Juni 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Terkadang bila didatangkan keju yang dibuat dari minyak atau mentega dia meminta izin kepada kaum muslimin dengan berkata: aku adalah orang Arab tidak dapat terus menerus memakan minyak."
Baca juga: Tuhan-Tuhan Bani Israel dan Misi Tauhid Nabi Musa
Qotadah berkata: "Dahulu aku menjadi penanggung jawab baitul mal di masa pemerintahan Umar. Ketika menyapu baitul mal, kudapati sekeping dirham. Akupun memberikannya kepada Ibnu Umar (putra umar), lalu pulang. Tetapi kemudian datang utusan Umar memanggilku. Ketika tiba, sekeping dirham itu sudah berada ditangan Umar.
Umar berkata kepadaku: "Celaka engkau, apakah ada sesuatu atasku dalam dirimu?! ada masalah apa antara aku dan engkau?"
"Ada apa amirul mukminin?" tanya Qatadah.
"Apakah engkau ingin umat Muhammad menuntutku (di akhirat) karena sekeping dirham ini?" tegas Umar.
Baca juga: Begini Dialog Antara Nabi Musa AS dan Fir'aun Tentang Ketuhanan
Teladan Utsman bin Affan
Dia adalah Abu Amar al-Umawi. Bergelar Zuu an-Nurain (pemilik dua cahaya –maksudnya yang menikahi dua putri Nabi-). Malaikat malu kepadanya. Dia yang mengumpulkan umat pada satu mushaf setelah berselisih. Yang menaklukan Khurasan dan Magrib. Termasuk dari generasi awal lagi jujur. Senantiasa menegakkan salat malam dan berpuasa. Yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dan yang dipersaksikan oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. (Baca juga: Jejak Sayyidah Ruqayyah dan Nasib Ummu Kultsum Putri Rasulullah)
Dari Syarhabil bin Muslim bahwa Utsman menjamu orang-orang dengan makanan bangsawan, sementara dia sendiri masuk rumahnya dan makan (roti) campur zuka dan minyak.
Baca juga: Menjadi Menantu Abu Lahab, Kisah Pilu Ruqayyah Putri Rasulullah
Teladan Ali bin Abi Thalib
Nabi mempersaksikannya sebagai penghuni surga. Nabi berkata:
مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌ مَوْلاَهُ
"Siapa yang aku sebagai pelindung/pemimpinnya, maka Ali adalah pelindung/pemimpinnya."
Dan sabdanya:
(( أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْن مِنْ مُوْسَى إِلاّ أَنَّهُ لاَ نَبِي بَعْدِي ))
"Engkau bagiku seperti posisi Nabi harun pada Nabi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku."
Sabdanya yang lain:
(( لاَ يُحِبُّكَ إِلاّ مُؤْمِن, وَلاَ يَبْغَضُكَ إِلاّ مُنَافِق ))
"Tidak ada yang mencintaimu kecuali dia itu seorang mukmin, dan tidak ada yang membencimu melainkan dia itu munafik."
Baca juga: Ajaran Menakjubkan Sayidina Ali di Saat Bertempur
Dari Abdullah bin Umair, dari seseorang yang berasal dari Tsaqif menceritakan bahwa Ali menugaskan Abdullah bin Umair memimpin daerah Akbari, bagian wilayah Kufah. Ali berkata kepadanya: "Salatlah zuhur di tempatku."
"Akupun mendatanginya karena tidak ada alasan bagiku untuk tidak mendatanginya. Ketika sampai, aku dapati padanya ada cawan berisi air dan cangkir. Lalu dia meminta dibawakan bathiah (mangkuk), membuka tutupnya dan makan dengan rebusan air kacang.
Maka akupun berkata: "Wahai Amirul Mukminin, engkau mengkonsumsi seperti ini di Irak padahal Irak memiliki makanan yang lebih dari ini."
Baca juga: Penghulu Wanita di Surga, Sayyidah Fatimah Wafat di Bulan Ramadhan
Dia berkata: "Demi Allah, tidaklah aku lakukan hal ini karena bakhil terhadap makanan, dan engkau tahu bahwa tidak ada yang lebih menjaga milikku daripada aku. Aku tidak suka mengadakan sesuatu yang tidak aku miliki. Dan aku tidak suka memasukkan sesuatu ke dalam perutku kecuali yang baik."
Dari Umul Walad milik Ali, dia berkata: "Pada suatu hari aku mendatangi Ali. Di hadapannya ada kurunful maksuf (seikat ranting semacam batang sirih yang berbau wangi, biasanya digunakan pada masakan), akupun berkata kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, berikan seutas qurunful itu untuk putriku!"
Ali menjawab: "Beri aku sekeping dirham! -seraya menjulurkan tangannya-. Sesungguhnya ini adalah harta kaum muslimin; bersabarlah sampai kuterima gajiku, maka akan aku berikan kepadamu.".
Ali enggan memberiku sedikitpun darinya.
Abu Shaleh al-Hanafi berkata: "Aku mendatangi Ummu Kultsum (putri Ali). Ketika sampai Ummu Kultsum berkata:
"Jamulah Abu Shaleh!"
Abu Shaleh diberi kari yang berisi kacang. "Kalian memberiku ini padahal kalian adalah penguasa," komentar Abu Shaleh.
"Bagaimana jika engkau melihat Amirul Mukminin, Ali ketika diberi buah utruj Hasan atau Husain memintanya untuk anak-anak mereka, tetapi Ali enggan memberikannya dan memilih membagikannya kepada kaum muslimin," jawab Ummu Kultsum. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tiga Kebenaran )
Baca juga: Tuhan-Tuhan Bani Israel dan Misi Tauhid Nabi Musa
Qotadah berkata: "Dahulu aku menjadi penanggung jawab baitul mal di masa pemerintahan Umar. Ketika menyapu baitul mal, kudapati sekeping dirham. Akupun memberikannya kepada Ibnu Umar (putra umar), lalu pulang. Tetapi kemudian datang utusan Umar memanggilku. Ketika tiba, sekeping dirham itu sudah berada ditangan Umar.
Umar berkata kepadaku: "Celaka engkau, apakah ada sesuatu atasku dalam dirimu?! ada masalah apa antara aku dan engkau?"
"Ada apa amirul mukminin?" tanya Qatadah.
"Apakah engkau ingin umat Muhammad menuntutku (di akhirat) karena sekeping dirham ini?" tegas Umar.
Baca juga: Begini Dialog Antara Nabi Musa AS dan Fir'aun Tentang Ketuhanan
Teladan Utsman bin Affan
Dia adalah Abu Amar al-Umawi. Bergelar Zuu an-Nurain (pemilik dua cahaya –maksudnya yang menikahi dua putri Nabi-). Malaikat malu kepadanya. Dia yang mengumpulkan umat pada satu mushaf setelah berselisih. Yang menaklukan Khurasan dan Magrib. Termasuk dari generasi awal lagi jujur. Senantiasa menegakkan salat malam dan berpuasa. Yang menginfakkan hartanya di jalan Allah dan yang dipersaksikan oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. (Baca juga: Jejak Sayyidah Ruqayyah dan Nasib Ummu Kultsum Putri Rasulullah)
Dari Syarhabil bin Muslim bahwa Utsman menjamu orang-orang dengan makanan bangsawan, sementara dia sendiri masuk rumahnya dan makan (roti) campur zuka dan minyak.
Baca juga: Menjadi Menantu Abu Lahab, Kisah Pilu Ruqayyah Putri Rasulullah
Teladan Ali bin Abi Thalib
Nabi mempersaksikannya sebagai penghuni surga. Nabi berkata:
مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌ مَوْلاَهُ
"Siapa yang aku sebagai pelindung/pemimpinnya, maka Ali adalah pelindung/pemimpinnya."
Dan sabdanya:
(( أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُوْن مِنْ مُوْسَى إِلاّ أَنَّهُ لاَ نَبِي بَعْدِي ))
"Engkau bagiku seperti posisi Nabi harun pada Nabi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku."
Sabdanya yang lain:
(( لاَ يُحِبُّكَ إِلاّ مُؤْمِن, وَلاَ يَبْغَضُكَ إِلاّ مُنَافِق ))
"Tidak ada yang mencintaimu kecuali dia itu seorang mukmin, dan tidak ada yang membencimu melainkan dia itu munafik."
Baca juga: Ajaran Menakjubkan Sayidina Ali di Saat Bertempur
Dari Abdullah bin Umair, dari seseorang yang berasal dari Tsaqif menceritakan bahwa Ali menugaskan Abdullah bin Umair memimpin daerah Akbari, bagian wilayah Kufah. Ali berkata kepadanya: "Salatlah zuhur di tempatku."
"Akupun mendatanginya karena tidak ada alasan bagiku untuk tidak mendatanginya. Ketika sampai, aku dapati padanya ada cawan berisi air dan cangkir. Lalu dia meminta dibawakan bathiah (mangkuk), membuka tutupnya dan makan dengan rebusan air kacang.
Maka akupun berkata: "Wahai Amirul Mukminin, engkau mengkonsumsi seperti ini di Irak padahal Irak memiliki makanan yang lebih dari ini."
Baca juga: Penghulu Wanita di Surga, Sayyidah Fatimah Wafat di Bulan Ramadhan
Dia berkata: "Demi Allah, tidaklah aku lakukan hal ini karena bakhil terhadap makanan, dan engkau tahu bahwa tidak ada yang lebih menjaga milikku daripada aku. Aku tidak suka mengadakan sesuatu yang tidak aku miliki. Dan aku tidak suka memasukkan sesuatu ke dalam perutku kecuali yang baik."
Dari Umul Walad milik Ali, dia berkata: "Pada suatu hari aku mendatangi Ali. Di hadapannya ada kurunful maksuf (seikat ranting semacam batang sirih yang berbau wangi, biasanya digunakan pada masakan), akupun berkata kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, berikan seutas qurunful itu untuk putriku!"
Ali menjawab: "Beri aku sekeping dirham! -seraya menjulurkan tangannya-. Sesungguhnya ini adalah harta kaum muslimin; bersabarlah sampai kuterima gajiku, maka akan aku berikan kepadamu.".
Ali enggan memberiku sedikitpun darinya.
Abu Shaleh al-Hanafi berkata: "Aku mendatangi Ummu Kultsum (putri Ali). Ketika sampai Ummu Kultsum berkata:
"Jamulah Abu Shaleh!"
Abu Shaleh diberi kari yang berisi kacang. "Kalian memberiku ini padahal kalian adalah penguasa," komentar Abu Shaleh.
"Bagaimana jika engkau melihat Amirul Mukminin, Ali ketika diberi buah utruj Hasan atau Husain memintanya untuk anak-anak mereka, tetapi Ali enggan memberikannya dan memilih membagikannya kepada kaum muslimin," jawab Ummu Kultsum. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tiga Kebenaran )
(mhy)
Lihat Juga :