4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya

Selasa, 09 Juni 2020 - 05:00 WIB
loading...
4 Perkara Syarat Diterimanya...
Manusia bervariasi dalam melaksanakan amal ibadah ini, semua itu menurut taufik Allah SWT kepadanya. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
SIAPA yang tak ingin dicintai oleh Allah Swt. Hal ini tentu sesuatu yang selalu diidam-idamkan oleh setiap hamba-Nya. Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan kepada kita doa berikut ini bagi siapa saja yang ingin memohon cinta kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( اللهم إني أسألك حبك وحب من يحبك وحب العمل الذي يبلغني حبك اللهم اجعل حبك أحب إلي من نفسي وأهلي ومن الماء البارد ))

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal ibadah yang menyampaikan aku kepada cinta kepada-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku kepada diriku, keluargamu dan dari air yang dingin. (di padang yang tandus)"

Doa di atas adalah hadis diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Ini merupakan doa yang sering dibaca oleh Nabi Daud. Rasulullah SAW setiap kali menuturkan tentang kisah Nabi Daud a.s selalu mengatakan, bahwa dia adalah manusia yang paling rajin beribadah. (Baca juga: Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar )

Baca juga: Tiga Soal Ujian di Alam Kubur untuk Dapat Tiket Surga atau Neraka

Asma` binti Rasyid ar-Ruwaisyid dalam "Ibadah Yang Paling Dicintai Allah" menyebut di antara rahmat Allah SWT dan hikmah -Nya, Dia menjadikan sarana yang menyampaikan kepada cinta dan ridha-Nya, dan Dia telah menjadikan untuk tujuan yang paling mulia lagi paling tinggi –yang dengan dariNya dan mencapai ridhaNya- menjadikan baginya beberapa sarana, yait u beriman dan beramal saleh yang disyari’atkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan telah dijelaskan oleh Rasul-Nya.

Baca juga: Jangan Remehkan Kriteria Jodohmu, Ukhti!

Bahkan Islam dengan akidah dan hukum-hukumnya semua bertujuan merealisasikan ridha Allah dan dekat darinya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى :﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾ [ المائدة: 35]

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. al-Maidah:35)

Dan maksud firman-Nya: ﴾ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَة ﴿ : carilah amal saleh yang menyampaikan kepada-Nya, yaitu semua amal ibadah yang hamba mendekatkan diri dengannya kepada Rabb-Nya, untuk mendepatkan cinta, ridha dan dekat dengan-Nya.

Baca juga: Agar Kerja Menjadi Ibadah, Ingat Allah Maha Pemberi Rezeki

Tingkatan
Amal-amal saleh yang disyari’atkan, semuanya tidak berada dalam satu tingkatan dalam keutamaan dan disukai di sisi Allah, sekalipun semuanya pada dasarnya disukai dan dicintai oleh Allah. Akan tetapi baginya ada tingkatan yang berbeda dari sisi kecintaan Allah SWT.

Baca juga: Baca juga: Bukti-bukti Keniscayaan Hari Akhir Menurut Al-Qur'an

Sebagiannya lebih utama di sisi Allah SWT dari yang lain. Di antara amal ibadah ada yang mafdhul, ada yang fadhil dan ada yang afdhal. Dan untuk hal itu ada beberapa tingkatan yang tidak terhingga.

Baca juga: Al-Qur'an Menjawab Para Pengingkar Hari Kiamat

Menurut Asma` binti Rasyid, manusia bervariasi dalam melaksanakan amal ibadah ini, semua itu menurut taufik Allah SWT kepadanya. Ini yang pertama-tama. Kemudian menurut kekuatan makrifahnya kepada Allah SWT, asma, sifat dan af’al-Nya.

Dan menurut pengetahuannya dengan keutamaan amal ibadah yang disyari’atkan, waktu-waktunya yang disyari’atan, dan yang dilarang darinya.

Baca Juga: Inilah Rentetan Peristiwa Menjelang Hari Kiamat Besar

Amal saleh berbeda di sisi Allah SWT dari sisi jenis amal saleh itu sendiri, maka Allah mencintainya karena keagungannya di sisi-Nya melebihi yang lainnya, seperti iman umpamanya, salat dan lainnya, demikian pula berbeda-beda dari sisi waktu pelaksanaan amal tersebut.

Terkadang melaksanakan ibadah yang mafdhul di waktunya yang disyari’atkan padanya lebih utama dan lebih dicintai di sisi Allah SWT dari pada melaksanakan amal ibadah yang lebih utama di waktu itu. Umpanya: mengulangi ucapan muazin di waktu azan lebih utama dari membaca al-Qur`an di waktu tersebut, padahal di waktu yang lain membaca al-Qur`an adalah ibadah zikir yang paling utama.

Baca juga: Kematian, Hanya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang Bisa Menawar

Terkadang Allah SWT mencintai ibadah lebih banyak dari yang lainnya, karena manfaat dan pengaruhnya sampai kepada orang lain, seperti silaturrahim, dakwah kepada Allah SWT, dan sedekah.

Menurut Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 22/308, sebagian ulama berkata: menulis hadis lebih utama dari pada salat sunnah, dan sebagian syaikh berkata: dua rekaat yang saya laksanakan di malam hari, di mana tidak ada orang lain yang melihat lebih utama dari pada menulis seratus hadis.

"Pada imam yang lain berkata, bahkan yang lebih utama adalah melakukan ini dan ini. Dan yang lebih utama adalah bervariasi dengan berbagai kondisi manusia," ujar Ibnu Taimiyah.

Baca juga: Di Balik Umur Singkat Umat Nabi Muhammad SAW

Di antara amal ibadah ada yang jenisnya lebih utama, menurutnya, kemudian terkadang menjadi marjuh (kurang utama) atau dilarang darinya, seperti salat. Sesungguhnya ia lebih utama dari pada membaca al-Qur`an. Membaca al-Qur`an adalah zikir yang paling utama, dan dzikir lebih utama dari doa.

Kemudian, salat di waktu-waktu yang dilarang, seperti setelah salat fajar dan ashar, dan di waktu khutbah adalah dilarang darinya. Dan yang dilakukan pada saat itu bisa dengan membaca al-Qur`an, atau zikir, atau doa, atau mendengarkan hal itu.

Baca juga: Kematian, Hanya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang Bisa Menawar

Ibnul Qayyim dalam kitab ‘Madarijus Salikin’ menambahkan yang paling utama di setiap waktu dan kondisi adalah mengutamakan ridha Allah SWT di waktu dan kondisi tersebut dan melaksanakan kewajiban di waktu tersebut, tugas dan tuntutannya.

Mereka itu ahli ibadah yang mutlak, dan golongan-golongan sebelum mereka ahli ibadah yang terikat, maka bila salah seorang dari mereka keluar dari jenis yang dia bergantung dengannya dari ibadah dan memisahinya, ia melihat dirinya seolah-olah telah berkurang dan meninggalkan ibadahnya.

Baca juga: Hubungan Akrab Nabi Sulaiman dengan Malaikat Izrail

Ia menyembah menurut jalan yang satu, dan pelaku ibadah mutlak tidak ada tujuan baginya dalam satu ibadah secara tersendiri yang mengutamakannya terhadap yang lainnya. Akan tetapi tujuannya adalah mencari ridha Allah SWT di mana pun adanya.

Poros ibadahnya beredar di atasnya (ridha Allah SWT). Ia senantiasa berpindah di dalam tingkatan ibadah. Setiap kali diangkat baginya satu tingkatan yang dia amalkan, ia menyibukkan diri dengannya hingga nampak tingkatan yang lain.

Inilah kebiasaannya dalam berjalan sehingga berakhir perjalanannya. Menurut Ibnul Qayyim, jika engkau melihat ulama niscaya engkau melihatnya bersama mereka. Jika engkau melihat para ahli ibadah tentu engkau melihatnya bersama mereka. Dan jika engkau melihat para mujahid niscaya engkau melihatnya besama mereka.

"Jika engkau melihat orang-orang yang berzikir niscaya engkau melihatnya bersama mereka. Dan jika engkau melihat orang-orang yang muhsin niscaya engkau melihatnya bersama mereka. Inilah hamba mutlak yang tidak terikat dalam dalam satu ikatan," tuturnya.

Baca juga: Harut dan Marut Senang, Hukuman Akan Berakhir, Kiamat Sudah Dekat

Syarat Penting
Menurut Asma` binti Rasyid menyebutkan beberapa perkara penting yang merupakan syarat diterimanya amal saleh dan dilipat gandakan pahalanya, serta manfaatnya tetap ada di akhirat, yaitu:

1. Ikhlas kepada Allah SWT dalam semua ibadah, yaitu mengharap ridha Allah SWT, ridha-Nya, mengharapkan yang ada di sisi-Nya, mengosongkan hati dari memperhatikan manusia dan bagian jiwa yang segera (di dunia).

2. Membedakan niat dalam ibadah, banyak yang mengira ia adalah ikhlas dan sebenarnya bukan seperti itu. Ibnul Qayyim berkata: niat dalam ibadah dan ini adalah tambahan terhadap ikhlas. Sesungguhnya ikhlas adalah mengesakan yang disembah (Allah SWT) dari yang lainnya, dan niat ibadah ada dua martabat: Salah satunya, membedakan ibadah dari rutinitas. Kedua, membedakan kedudukan ibadah satu sama lain.

Baca juga: Kiamat Sudah Dekat, Dajjal Sudah Muncul di Masa Nabi?

3. Nasihat dalam ibadah, yaitu mengeluarkan segenap kemampuan dalam melaksanakan ibadah menurut cara yang dicintai dan diridhai Rabb SWT. Dan ini menuntut mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

4. Menjaga pahala amal saleh, dan hal itu dengan berhati-hati dari terjerumus dalam perbuatan yang merusak dan meruntuhkan amal saleh, seperti riya, menyebut pemberian, menyakiti, ujub, mendatangi para peramal dan dukun, dan selain yang demikian itu.

Baca juga: Tanda-Tanda Sudah Ada, Benarkah Kiamat Akan Datang Pada Hari Jumat?

Dan yang beramal harus menjauhi yang menjadi penyebab berpindahnya pahala ibadahnya kepada orang lain. Dan hal itu bisa dengan melakukan tindakan melewati batas terhadap mereka dalam urusan dunia, atau menghalangi mendapatkan hak mereka, atau menyakiti mereka dengan berbagai macam gangguan, seperti ghibah (menggunjing), mencela, mencuri, tidak menyapa yang diharamkan, dan selain yang demikian itu. (Baca juga: Alam Barzakh: Ruh Para Syuhada Tersimpan di Rongga Burung Hijau )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Tak Disangka! 2 Salat...
Tak Disangka! 2 Salat Ini Pahalanya Seperti Ibadah Haji
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Pahala Haji Mabrur:...
Pahala Haji Mabrur: Bebas Dosa, Hilang Fakir, Nilai Jihad Wanita
Ribuan Petugas Satgas...
Ribuan Petugas Satgas Mina Disiagakan untuk Atur Arus Jemaah di Jamarat
Pahala Haji Tak Main-Main:...
Pahala Haji Tak Main-Main: Surga Jadi Balasannya
Belum Bisa ke Tanah...
Belum Bisa ke Tanah Suci? Ini Amalan Berpahala Setara Haji dan Umrah
Rekomendasi
Bintang Berukuran 10.000...
Bintang Berukuran 10.000 Kali Lebih Besar dari Matahari Terdeteksi
Anomali Magnetik Aneh...
Anomali Magnetik Aneh Ditemukan di Peta Baru Danau Rotorua
Pluvial Carnian Fenomena...
Pluvial Carnian Fenomena Hujan 2 Juta Tahun Lalu di Bumi Terungkap
Artikel Terkini
Hadis-Hadis tentang...
Hadis-Hadis tentang Hari Asyura, dari Amalan hingga Keutamaannya
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Mengapa Hari Asyura...
Mengapa Hari Asyura Begitu Istimewa? Ini Keutamaan, Peristiwa Besar, dan Fadhilah Puasanya
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah Muharram, Harian, Tasua dan Asyura
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Infografis
Muslim Harus Tahu, 7...
Muslim Harus Tahu, 7 Keutamaan Zakat dalam Al-Quran dan Hadis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved