Anggota Pasukan Infantri Itu Ternyata Seorang Filsuf

Senin, 15 Juni 2020 - 15:36 WIB
loading...
Anggota Pasukan Infantri...
Kala itu anggota pasukan Islam yang berkuda jumlahnya tidak tebih dari tiga orang. Foto/Iustrasi/Ist
A A A
SUATU hari menjelang Perang Badar . Umat Islam yang telah hijrah ke Madinah mendapat informasi bahwa kaum kafir Quraisy akan menyerang mereka. Kala itu jumlah umat Islam masih sedikit. Maka Rasulullah SAW pun mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshar untuk membicarakan masalah tersebut.

Salah satu sahabat Nabi , Miqdad ibnul Aswad hadir dalam pertemuan itu. Dia membaca situasi memang gawat. Jika benar akan terjadi perang, maka itu akan menjadi perang perdana. Kekuatan jelas tidak seimbang. Selain jumlahnya yang masih sedikit, persenjataan dan pengalaman perang kaum muslimin terbilang minim.

Hanya saja, Miqdad yakin Allah akan memberi kemenangan kepada umat Islam. Miqdad berpikir, Rasulullah tampaknya sedang menguji komitmen umat Islam, terutama kaum Anshar. (Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar )

Di tengah keraguan pada kaum muslimin itu, Miqdad ingin menunjukkan kepada Rasulullah bahwa umat Islam kompak dan solid, siap sahid di medan Badar. Miqdad hanya khawatir saja kalau ada di antara kaum muslimin yang terlalu berhati-hati terhadap perang. Dari itu sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kalimat-kalimat yang tegas dapat menyalakan semangat perjuangan dan turut mengambil bagian dalam membentuk pendapat umum. (Baca juga: Perang Badar (2): Bukti Dahsyatnya Kekuatan Doa dan Keyakinan )

Tetapi sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar Shiddiq telah mulai bicara, dan baik sekali buah pembicaraannya itu, hingga hati Miqdad menjadi tenteram karenanya setelah itu Umar bin Khatthab menyusul bicara, dan buah pembicaraannya juga baik. (Baca juga: Beberapa Kali Umar Berselisih Pendapat dengan Rasulullah ).

Setelah itu tampillah Miqdad. "Ya, Rasulullah,” ujarnya. “Teruslah laksanakan apa yang dititahtan Allah, dan kami akan bersama Anda. Demi, Allah, kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa : ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sedang kami akan duduk menunggu di sini’. Tetapi kami akan mengatakan kepada Anda: ‘Pergilah Anda bersama Tuhan Anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang di samping Anda!” katanya berapi-api.

“Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran!” lanjutnya. “Seandainya Anda membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersama Anda dengan tabah hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kiri Anda, di bagian depan dan di bagian belakang Anda, sampai Allah memberi Anda kemenangan!”

Baca juga
: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?

Kata-kata Miqdad seakan menghipnotis para hadirin. Kata-katanya itu mengalir tak ubah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Serta dari kata-kata tegas yang dilepasnya itu mengalirlah semangat kepahlawanan dalam kumpulan yang baik dari orang-orang beriman, bahkan dengan kekuatan dan ketegasannya, kata-kata itu pun menjadi contoh teladan bagi siapa yang ingin bicara, menjadi semboyan dalam perjuangan.

Wajah Rasulullah pun berseri-seri karenanya. Mulut beliau komat-kamit mengucapkan do'a yang baik untuk Miqdad.

Kalimat-kalimat yang diucapkan Miqdad mencapai sasarannya di hati orang-orang mukmin. Lalu Nabi Muhammad SAW berkata kepada kaum Anshar: "Apa yang harus saya lakukan?"

Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah

Sa'ad bin Muadz pemimpin kaum Anshar pun bangkit berdiri. "Wahai Rasulullah,” ujarnya dengan suara lantang. “Sungguh, kami telah beriman kepadaNya dan membenarkan Anda, dan kami saksikan bahwa apa yang Anda bawa itu adalah benar, serta untuk itu kami telah ikatkan janji dan padukan kesetiaan kami. Maka majulah wahai Rasulullah laksana apa yang Anda kehendaki, dan kami akan selalu bersama Anda,” lanjutnya.

Sa’ad berhenti sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap tajam kea rah Rasulullah dan berkata, “Dan demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, sekiranya Anda membawa kami menerjuni dan mangarungi lautan ini, akan kami terjuni dan arungi. Tidak seorang pun di antara kami yang akan berpaling dan tidak seorang pun yang akan mundur untuk menghadapi musuh!”

Baca juga: Ayat-Ayat Khamr: Di Zaman Pra-Islam Sudah Ada yang Haramkan Miras

Suara Sa’ad ikut membakar semangan kaum muslimin. “Sungguh, kami akan tabah dalam peperangan, teguh dalam menghadapi musuh dan moga-moga Allah akan memperlihatkan kepada Anda perbuatan kami yang berkenan di hati Anda ...! Nah, kerahkanlah kami dengan berkat dari Allah!" ujar Sa’ad disambut senyum Rasulullah.

"Berangkatlah dan besarkanlah hati kalian," ujar Rasulullah kepada para sahabat itu.

Maka Miqdad pun tampil gagah di atas kuda tunggangannya. Kala itu anggota pasukan Islam yang berkuda jumlahnya tidak tebih dari tiga orang. Selain Miqdad, ada Martsad bin Abi Martsad dan Zubair bin Awwam. Sementara pejuang-pejuang lainnya terdiri atas pasukan pejalan kaki, atau pengendara-pengendara unta.

Baca juga: Ijtihad Umar bin Khattab dari Soal Khamar Sampai Urusan Jilbab )

Dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Syu'bah dan Abu Ishaq, dari Haritsah bin Mudharrib, dari Ali ra yang berkata, "Tidak ada seorang pun dari kami dalam perang Badar yang menjadi infantry (pasukan berkuda) kecuali Miqdad".

Kalangan sahabat menyebut Miqdad adalah orang yang cerdas. Apa yang dikemukakan dalam musyawarah menjelang Perang Badar itu menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam.

Baca juga: Sa’ad bin Abi Waqqash: Penduduk Surga Penyebar Islam di Cina

la dikenal sebagai seorang-filosof dan ahli fikir. Hikmat dan filsafatnya tidak saja terkesan pada ucapan semata, tapi terutama pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh dan perjalanan hidup yang teguh, tulus, dan lurus sementara pengalaman-pengalamannya menjadi sumber bagi pemikiran dan penunjang bagi filsafat itu.

Penakluk An-Nadhr
Jasa besar Al-Miqdad dalam Perang Badar adalah menangkap An-Nadhr bin Harist. Ia adalah gembong kafir kaum Quraisy yang sangat jahat, licik, dan penuh tipu daya yang selalu mengganggu pada awal dakwah Nabi di Makkah.

Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid

Pengetahuan si kafir ini lumayan luas. Maklumlah, ia berniaga hingga sering bepergian ke berbagai wilayah Romawi, Persia dan sekitarnya, dan ia bertemu banyak orang cerdik-pandai. Dia juga bertemu banyak tradisi dan budaya dari berbagai suku dan bangsa. Oleh karenanya, ia sangat berbangga diri dan merasa paling unggul di antara Suku-Suku di Makkah.

Lantaran kecerdasannya itu, para pembesar suku Quraisy meminta An-Nadhr untuk menghentikan pengaruh Nabi Muhammad. An-Nadhr melakukan upaya-upaya serius menggagalkan dakwah Rasulullah.

Baca juga : Khalifah Umar Pecat Khalid bin Walid demi Selamatkan Tauhid Umat
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Jejak Perang yang Diabadikan...
Jejak Perang yang Diabadikan dalam Al Quran, Apa Saja?
Kisah Sahabat Nabi dari...
Kisah Sahabat Nabi dari Iran : Salman Al Farisi Sempat Menjadi Penjaga Api Agama Majusi
Sejarah dan Asal-usul...
Sejarah dan Asal-usul Ucapan Minal Aidin Wal Faizin
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Debat Sengit Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab Tentang Pembangkang Bayar Zakat
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Iktikaf Abu Sa’id Al-Khudri Bersama Rasulullah SAW
Rekomendasi
Penemuan Bawah Laut...
Penemuan Bawah Laut Indonesia Berusia 140.000 Tahun Ungkap Rahasia Manusia Purba
Suara Bawah Air Terkeras...
Suara Bawah Air Terkeras Terdengar dari Lokasi Paling Terpencil di Bumi
Cacing Api Serbu Pesisir...
Cacing Api Serbu Pesisir Teluk Texas, Warga AS Diminta Hindari Pantai
Artikel Terkini
Fakta Sejarah: Hijrah...
Fakta Sejarah: Hijrah Nabi SAW Terjadi di Bulan Rabiul Awal, Bukan Muharram
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Mengapa Muharram Menjadi...
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Pemberangkatan Jemaah...
Pemberangkatan Jemaah Haji Gelombang Kedua dari Makkah Menuju Madinah Dimulai 7 Juni
Kumpulan Doa Pulang...
Kumpulan Doa Pulang Haji Lengkap dengan Zikirnya
Surat Al Ankabut Ayat...
Surat Al Ankabut Ayat 2-3, Mengingatkan Bahayanya Fitnah Akhir Zaman
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved