Kisah Miqdad bin Amr

Anggota Pasukan Infantri Itu Ternyata Seorang Filsuf

loading...
Anggota Pasukan Infantri Itu Ternyata Seorang Filsuf
Kala itu anggota pasukan Islam yang berkuda jumlahnya tidak tebih dari tiga orang. Foto/Iustrasi/Ist
SUATU hari menjelang Perang Badar . Umat Islam yang telah hijrah ke Madinah mendapat informasi bahwa kaum kafir Quraisy akan menyerang mereka. Kala itu jumlah umat Islam masih sedikit. Maka Rasulullah SAW pun mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshar untuk membicarakan masalah tersebut.

Salah satu sahabat Nabi , Miqdad ibnul Aswad hadir dalam pertemuan itu. Dia membaca situasi memang gawat. Jika benar akan terjadi perang, maka itu akan menjadi perang perdana. Kekuatan jelas tidak seimbang. Selain jumlahnya yang masih sedikit, persenjataan dan pengalaman perang kaum muslimin terbilang minim.

Hanya saja, Miqdad yakin Allah akan memberi kemenangan kepada umat Islam. Miqdad berpikir, Rasulullah tampaknya sedang menguji komitmen umat Islam, terutama kaum Anshar. (Baca juga: Perang Badar (1): Menguji Kesetiaan Kaum Anshar )

Di tengah keraguan pada kaum muslimin itu, Miqdad ingin menunjukkan kepada Rasulullah bahwa umat Islam kompak dan solid, siap sahid di medan Badar. Miqdad hanya khawatir saja kalau ada di antara kaum muslimin yang terlalu berhati-hati terhadap perang. Dari itu sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka, agar dengan kalimat-kalimat yang tegas dapat menyalakan semangat perjuangan dan turut mengambil bagian dalam membentuk pendapat umum. (Baca juga: Perang Badar (2): Bukti Dahsyatnya Kekuatan Doa dan Keyakinan )

Tetapi sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar Shiddiq telah mulai bicara, dan baik sekali buah pembicaraannya itu, hingga hati Miqdad menjadi tenteram karenanya setelah itu Umar bin Khatthab menyusul bicara, dan buah pembicaraannya juga baik. (Baca juga: Beberapa Kali Umar Berselisih Pendapat dengan Rasulullah ).

Setelah itu tampillah Miqdad. "Ya, Rasulullah,” ujarnya. “Teruslah laksanakan apa yang dititahtan Allah, dan kami akan bersama Anda. Demi, Allah, kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa : ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sedang kami akan duduk menunggu di sini’. Tetapi kami akan mengatakan kepada Anda: ‘Pergilah Anda bersama Tuhan Anda dan berperanglah, sementara kami ikut berjuang di samping Anda!” katanya berapi-api.

“Demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran!” lanjutnya. “Seandainya Anda membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersama Anda dengan tabah hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kiri Anda, di bagian depan dan di bagian belakang Anda, sampai Allah memberi Anda kemenangan!”

Baca juga
: Islam Turun di Makkah, Benarkah Karena Wilayah Itu Paling Bejat?

Kata-kata Miqdad seakan menghipnotis para hadirin. Kata-katanya itu mengalir tak ubah bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Serta dari kata-kata tegas yang dilepasnya itu mengalirlah semangat kepahlawanan dalam kumpulan yang baik dari orang-orang beriman, bahkan dengan kekuatan dan ketegasannya, kata-kata itu pun menjadi contoh teladan bagi siapa yang ingin bicara, menjadi semboyan dalam perjuangan.

Wajah Rasulullah pun berseri-seri karenanya. Mulut beliau komat-kamit mengucapkan do'a yang baik untuk Miqdad.

Kalimat-kalimat yang diucapkan Miqdad mencapai sasarannya di hati orang-orang mukmin. Lalu Nabi Muhammad SAW berkata kepada kaum Anshar: "Apa yang harus saya lakukan?"

Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah

Sa'ad bin Muadz pemimpin kaum Anshar pun bangkit berdiri. "Wahai Rasulullah,” ujarnya dengan suara lantang. “Sungguh, kami telah beriman kepadaNya dan membenarkan Anda, dan kami saksikan bahwa apa yang Anda bawa itu adalah benar, serta untuk itu kami telah ikatkan janji dan padukan kesetiaan kami. Maka majulah wahai Rasulullah laksana apa yang Anda kehendaki, dan kami akan selalu bersama Anda,” lanjutnya.

Sa’ad berhenti sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia menatap tajam kea rah Rasulullah dan berkata, “Dan demi yang telah mengutus Anda membawa kebenaran, sekiranya Anda membawa kami menerjuni dan mangarungi lautan ini, akan kami terjuni dan arungi. Tidak seorang pun di antara kami yang akan berpaling dan tidak seorang pun yang akan mundur untuk menghadapi musuh!”

Baca juga: Ayat-Ayat Khamr: Di Zaman Pra-Islam Sudah Ada yang Haramkan Miras

Suara Sa’ad ikut membakar semangan kaum muslimin. “Sungguh, kami akan tabah dalam peperangan, teguh dalam menghadapi musuh dan moga-moga Allah akan memperlihatkan kepada Anda perbuatan kami yang berkenan di hati Anda ...! Nah, kerahkanlah kami dengan berkat dari Allah!" ujar Sa’ad disambut senyum Rasulullah.

"Berangkatlah dan besarkanlah hati kalian," ujar Rasulullah kepada para sahabat itu.

Maka Miqdad pun tampil gagah di atas kuda tunggangannya. Kala itu anggota pasukan Islam yang berkuda jumlahnya tidak tebih dari tiga orang. Selain Miqdad, ada Martsad bin Abi Martsad dan Zubair bin Awwam. Sementara pejuang-pejuang lainnya terdiri atas pasukan pejalan kaki, atau pengendara-pengendara unta.

Baca juga: Ijtihad Umar bin Khattab dari Soal Khamar Sampai Urusan Jilbab )

Dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Syu'bah dan Abu Ishaq, dari Haritsah bin Mudharrib, dari Ali ra yang berkata, "Tidak ada seorang pun dari kami dalam perang Badar yang menjadi infantry (pasukan berkuda) kecuali Miqdad".

Kalangan sahabat menyebut Miqdad adalah orang yang cerdas. Apa yang dikemukakan dalam musyawarah menjelang Perang Badar itu menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam.
halaman ke-1
preload video