Jelang Perang Yamamah (6)

Pertaruhan Besar Khalid bin Walid dalam Perang Yamamah

loading...
Pertaruhan Besar Khalid bin Walid dalam Perang Yamamah
Ilustrasi/Ist
KHALIFAH Abu Bakar tetap mempertahankan kedudukan Khalid bin Walid dan selanjudnya menugaskan Saifullah ini untuk berangkat ke Yamamah . memerangi Musailamah . Itu dilakukan setelah peramal Banu Hanifah itu mengalahkan Ikrimah. (Baca juga: Kasus Khalid tentang Laila, Membaca Sikap Umar dengan Khalifah Abu Bakar )

Muhammad Husain Haekal dalam As-Siddiq Abu Bakr berpendapat penugasan kepada Khalid bin Walid ini untuk memperlihatkan kepada orang-orang Madinah dan terutama mereka yang sependapat dengan Umar bin Khattab , bahwa Khalid adalah orang yang akan mengantarkan malapetaka itu, akan memberi pukulan telak, dan ketika perintah itu dikeluarkan ia akan melemparkannya ke neraka— atau dia akan habis tenggelam. (Baca juga: Soal Si Cantik Laila, Begini Kemarahan Umar Bin Khattab kepada Khalid Bin Walid )

Itulah hukuman yang paling tepat atas perbuatannya terhadap Umm Tamim, Laila, dan suaminya. Atau kemenangan itu pula yang akan membersihkan namanya, lalu ia muncul sebagai orang yang datang dengan kemenangan yang membawa hasil, sekaligus menenteramkan hati kaum Muslimin.

Baca juga: Trio Jenderal Bertempur Bersama Perangi Kaum Murtad di Oman

Dengan demikian apa yang terjadi di Butah sudah tak berarti apa-apa lagi. Menurut Haekal, Yamamah sudah membersihkan nama Khalid walaupun dalam pada itu, sebelum darah Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah kering, ia telah menikah pula dengan seorang gadis perawan, seperti yang dilakukannya dengan Laila. Atas perbuatannya ini pun Abu Bakar memberikan teguran, bahkan lebih keras lagi dari ketika mengawini Laila. Tetapi itu tak lebih dari sekadar teguran dan Khalid pun tak lebih dari sekadar mendengarkan. (Baca juga: Kontroversi Khalid bin Walid dan Betis Indah Si Cantik Laila )

Saya rasa teguran Abu Bakar hanya untuk menenangkan kemarahan orang-orang semacam Abu Qatadah. “Kalau saya harus merasa heran, keheranan saya kepada penulis-penulis dan para ahli sejarah yang dengan peristiwa itu mereka berusaha hendak menjelek-jelekkan Khalid. Juga tidak kurang keheranan saya kepada mereka yang berusaha hendak membelanya atau mencari-carikan alas an,” ujar Haekal. (Baca juga: Cinta Bersemi Dua Sejoli Nabi Palsu di Yamamah )

“Apa artinya Malik, apa artinya Laila dan apa pula artinya Bint Mujja'ah dibandingkan dengan ratusan bahkan ribuan kepala yang sudah ditebas oleh pedang Khalid atau atas perintahnya,” lanjutnya.

Ratusan, bahkan ribuan kepala yang sudah lepas dari tubuh itu merupakan kebanggaan Khalid, dan itulah yang membuat dia sebagai Saifullah. Jika pada suatu saat pedangnya itu pernah menimbulkan keonaran, selama bertahun-tahun pedang itu juga telah memberikan kemenangan dan kebanggaan. (Baca juga: Ini Dia, Nabi Palsu yang Ditinggalkan Pengikutnya Saat Perang Berkecamuk )

Khalid bertolak dari Madinah ke Butah setelah Abu Bakar mengeluarkan perintah agar berangkat menghadapi Musailamah di Yamamah. Sekarang ia kembali ke sana sesudah tempat itu bebas dari pembangkangan kaum murtad dan bekas-bekasnya. Ia tinggal di sana bersama pasukannya sambil menunggu datangnya bantuan dari Abu Bakar yang memang sudah dipersiapkan untuk memperkuatnya.

Setelah kemudian bantuan datang, ia berangkat memimpin angkatan bersenjatanya menuju tempat orang yang mengaku nabi itu, yang di Semenanjung itu ia dipandang paling berbahaya. Ia berangkat dengan penuh rasa percaya diri dan keimanan kepada Allah, dan dengan keyakinan bahwa Allah akan memperkuatnya, akan memberikan pertolongan kepadanya. "Jika Allah menolong kamu tak ada yang akan dapat mengalahkan kamu. " (Qur'an, 3. 160).

Baca juga: Debat Khalifah Abu Bakar dengan Umar Bin Khattab Soal Pembangkang Zakat

Khalid bin Walid berangkat ke Butah memimpin pasukannya berikut pasukan yang diperbantukan oleh Abu Bakar. Bantuan yang dikirimkan Khalifah Abu Bakar ini tak kurang kuatnya dari pasukan Khalid sendiri. Mereka terdiri dari tokoh-tokoh Muhajirin dan Ansar sahabat-sahabat Rasulullah yang sudah pernah juga mengalami perang, dan dari kabilah-kabilah atau suku-suku yang keberaniannya dalam pertempuran sudah cukup terkenal.

Pasukan Ansar dipimpin oleh Sabit bin Qais dan al-Bara' bin Malik, dan pasukan Muhajirin dipimpin oleh Abu Huzaifah bin Yaman dan Zaid bin Khattab. Sedang dari kabilah-kabilah masing-masing sudah dengan pemimpinnya sendiri. (Baca juga: 11 Brigade Basmi Kaum Murtad, Khalid Bin Walid Pimpin Brigade Pertama )

Khalifah Abu Bakar tahu benar bahwa di pihak nabi palsu ini ada empat puluh ribu anggota pasukan yang sudah siap tempur. Mereka sudah percaya benar kepadanya dan bersedia mati untuk membelanya. Kalau dalam menghadapi kaum pembangkang itu Khalifah Abu Bakar juga tidak menyiapkan kaum Muslimin pilihan — dalam kepemimpinan, dalam keberanian dan dalam bertempur di medan perang — strateginya dalam perang menghadapi kaum murtad itu akan menemui kegagalan. (Baca juga: Dendam Perempuan Nabi Palsu dari Banu Tamim )

Pandangan Khalifah Abu Bakar cukup jauh dengan imannya yang begitu kuat untuk membiarkan Islam yang baru ini sampai mengalami nasib demikian. Di antara mereka yang dikirimkan Khalifah Abu Bakar untuk membantu Khalid itu terdapat orang-orang yang sudah hafal Al-Qur'an, juga terdiri dari mereka yang sudah pernah terjun ke dalam perang Badr.

Padahal Khalifah Abu Bakar masih sangat menghemat kaum veteran Badar dengan mengatakan: "Aku tak akan menggunakan pasukan Badar. Biarlah mereka hidup sampai menemui Allah dengan amal mereka yang saleh. Allah akan menyelamatkan mereka dan orang-orang saleh itu melebihi pertolongan yang diberikan kepada mereka." (Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar )

Tetapi Abu Bakar kini harus menanggalkan pendiriannya itu, dan bersedia membantu Khalid dengan pasukan Badar dan mereka yang pernah mengalami pertempuran pada masa Rasulullah, sebab Musailamah sudah makin kuat di Yamamah.

Jadi setiap pengorbanan untuk mengikisnya berarti mempertahankan agama Allah, dan membiarkannya merajalela berarti api pemberontakan di tanah Arab akan makin berkobar, dan posisi kaum Muslimin akan semakin sulit. (Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar )

Sebenarnya peristiwa ini kecil sekali dibandingkan dengan kemenangan yang diperoleh Muslimin sampai sebelum ekspedisi Yamamah itu. Kabilah-kabilah yang berdekatan dengan Madinah dan yang pada suatu pagi dulu hendak mengepungnya waktu pelantikan Abu Bakar, tak ada yang mendakwakan diri jadi nabi, tak punya keinginan apa pun selain ingin dibebaskan dari kewajiban zakat.

Adi bin Hatim sudah berhasil menjauhkan kabilah-kabilah itu dari Tulaihah al-Asadi. Dengan demikian ia jadi lemah, dan tak lagi dapat mengadakan perlawanan. Juga kabilah-kabilah yang sudah mengalami kekalahan, yang ada di sekeliling Umm Ziml, sudah tak mampu memberikan dukungan. (Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman )

Dalam pada itu Banu Tamim sedang dalam sengketa antara sesama mereka, sedang Sajah sudah membuat patah semangat Malik bin Nuwairah. Perang antara dia dengan Khalid bin Walid sebenarnya sudah tak ada lagi. (Bersambung)
(mhy)
preload video